Jawa Pos Radar Mojokerto - Banyak orang bertanya-tanya: Siapakah sebenarnya Agus Setiawan? Mengapa ia dapat menyandang gelar Ketua BEM UI meskipun sejumlah mahasiswa menolak untuk mengakui keberadaannya?
Pertanyaan ini kemudian meluas menjadi diskusi besar mengenai perpecahan di dalam organisasi mahasiswa di kampus kuning itu.
Nama Agus Setiawan tiba-tiba muncul ke permukaan setelah dirinya berpartisipasi dalam audiensi di Gedung DPR RI dan berjumpa dengan Dasco, Wakil Ketua DPR.
Ia dikenal sebagai Ketua BEM UI, tetapi bukan versi yang biasa diketahui publik, melainkan versi dari pihak rektorat.
Kehadirannya langsung memicu kontroversi karena dianggap melanggar tradisi gerakan mahasiswa Universitas Indonesia yang dikenal kritis terhadap pemerintah dan lembaga legislatif.
Baca Juga: Ning Ita Sebut Akan Gulirkan Mutasi Jilid Kedua
Bagi sebagian mahasiswa, Agus dipandang sebagai hasil dari sistem administratif yang tidak mencerminkan keinginan masyarakat basis. Di sisi lain, pihak rektorat menilai Agus sebagai pemimpin yang sah karena telah mengikuti prosedur resmi yang ada.
Perdebatan mengenai hal ini masih berlanjut dan bahkan semakin intens setelah Agus muncul di DPR dengan membawa nama BEM UI. BEM UI dikenal sebagai simbol gerakan mahasiswa yang aktif.
Namun, baru-baru ini, ada dua versi kepengurusan yang beredar, BEM UI yang dihasilkan dari pemilihan mahasiswa dan BEM UI versi rektorat yang diakui oleh pihak universitas. Agus Setiawan termasuk dalam kelompok yang kedua.
Baca Juga: JPRM Tasyarufkan Bantuan, Diiringi Salawatan
Label ''Pengkhianat'' yang muncul setelah audiensi tersebut diiringi dengan tagar dan komentar tajam di media sosial.
Agus Setiawan dituduh sebagai pengkhianat terhadap gerakan mahasiswa, bahkan dicap sebagai ''alat'' untuk membungkam suara kritis dari UI. Sebutan ini tentunya bukan sebuah isu sepele.
Meski demikian, Agus menyatakan bahwa kehadirannya bertujuan untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa di DPR. Ia melihat ruang audiensi sebagai kesempatan untuk berdialog, walaupun pendekatannya menimbulkan pro dan kontra.
"Saya mewakili suara mahasiswa, bukan untuk kepentingan pribadi," demikian kira-kira pemaparan yang disuarakan dari pihak Agus.
Perdebatan ini menyoroti betapa rentan posisi organisasi mahasiswa ketika dunia kampus mulai berinteraksi dengan politik praktis.
Agus menjadi "tokoh penghubung" dalam cerita besar ini. Di satu sisi, ia dianggap sebagai pemimpin yang sah, sementara di sisi lain ia dipandang kurang autentik.
Adanya pertarungan legitimasi atas kehadiran Agus di DPR menggarisbawahi bahwa perdebatan ini lebih dari sekadar masalah kursi BEM, melainkan terkait dengan legitimasi gerakan mahasiswa.
Apakah BEM UI benar-benar mencerminkan suara kritis tanpa intervensi birokrasi? Atau mereka adalah organisasi yang harus patuh pada aturan resmi yang ditetapkan oleh kampus?
Walaupun ada pendapat yang pro dan kontra, Agus Setiawan kini menjadi simbol adanya perpecahan internal dalam BEM UI. Keberadaannya menunjukkan bahwa dinamika gerakan mahasiswa di Indonesia tidak pernah mudah.
Baca Juga: Keamanan Museum Majapahit Ditingkatkan
Dia mungkin menjadi sasaran kritik, tetapi juga membuka pemandangan mengenai bagaimana pihak rektorat, mahasiswa, dan bahkan legislatif saling berinteraksi dalam urusan kepentingan.
Kasus Agus Setiawan kemungkinan akan dikenang sebagai salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah BEM UI.
Pertanyaannya adalah, apakah di masa mendatang Agus dapat membuktikan dirinya sebagai wakil mahasiswa, atau hanya akan menjadi catatan kecil dari konflik panjang di dalam gerakan kampus? Hanya waktu yang bisa memberikan jawaban. Leny Ramandhan Oktaviany/FADYA
Editor : Imron Arlado