JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Red String Theory yang juga dikenal sebagai teori benang merah adalah kepercayaan bahwa dua orang yang ditakdirkan bersama telah terikat oleh seutas benang merah yang tak terlihat.
Konsep teori ini berasal dari kepercayaan masyarakat kuno Tiongkok yang menganggap bahwa Dewa Takdir (Yue Lao) telah mengikatkan seutas benang merah sebagai simbol ikatan takdir, jodoh atau keterikatan secara emosional antara dua orang yang telah ditakdirkan untuk hidup bersama selamanya.
Warna merah dalam budaya Tiongkok memiliki makna kebahagiaan, keberuntungan, dan perayaan. Maka dari itu, Tiongkok memilih benang berwarna merah dan biasanya digunakan saat acara pernikahan.
Tak hanya Tiongkok, Jepang juga memiliki kepercayaan yang sama seperti negara tirai bambu tersebut.
Baca Juga: 40 Lebih Peserta Telah Mendaftar Lomba Tari Kreasi Tradisi Se-Mojokerto Raya
Di Jepang red string theory dikenal dengan sebutan Akai Ito. Jepang menganggap bahwa dua orang yang sudah terikat benang merah akan selalu terhubung untuk hidup bersama, terlepas dari waktu, tempat, ataupun keadaan.
Dalam kepercayaan Tiongkok, seutas benang merah yang tak terlihat itu diikatkan pada pergelangan kaki. Hal ini karena masyarakat Tiongkok beranggapan bahwa kaki adalah simbol dari dasar dan fondasi kehidupan.
Benang merah yang terikat di pergelangan kaki menandakan bahwa takdir yang mengikat dua insan telah terikat sejak langkah pertama dalam hidup.
Sedangkan dalam kepercayaan Jepang, benang merah takdir diikatkan pada jari kelingking. Karena menurut masyarakat Jepang, jari kelingking berkaitan dengan janji suci.
Ikatan benang takdir di jari kelingking juga dianggap lebih romantis dan personal karena digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menyentuh dan merasakan.
Baca Juga: GGS Pawon Mojopahit, Ikon Unggulan Penggerak Ekonomi Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal
Versi kepercayaan Jepang ini juga lebih populer di masa kini, biasanya mudah ditemui pada tayangan anime, manga, drama, dan film asia.
Masyarakat yang mempercayai konsep teori benang merah takdir percaya bahwa benang ini mungkin akan meregang atau kusut termakan waktu.
Namun dalam keadaan apapun, benang ini tidak akan terputus, sekalipun dua orang tersebut belum pernah dipertemukan.
Dalam budaya modern saat ini, red string theory seringkali muncul dalam drama korea, anime, manga, dan film asia lainnya sebagai inti dari suatu cerita. Seperti pada anime movie bertajuk Kimi No Nawa, The Handsome Suit, dan drama Scarlet Heart Ryeo.
Baca Juga: Mutasi untuk Me-Refresh ”Pejabat Beku”
Selain versi Jepang dan Tiongkok, Korea juga memiliki kepercayaan yang sama seperti dua negara tersebut.
Dalam kepercayaan korea, red string theory disebut dengan akai sil yang berarti benang merah. Benang merah tak terlihat ini diikatkan pada jari kelingking sama dengan kepercayaan Jepang.
Yang membedakan kepercayaan Korea dengan kepercayaan negara lain adalah benang takdir dalam kepercayaan Korea tidak hanya berwarna merah, namun ada juga yang berwarna biru. Melambangkan keseimbangan antara dua jiwa.
Sama seperti kepercayaan peradaban kuno, di peradaban saat ini teori benang merah tetap melekat sebagai simbol dari cinta dan janji yang suci.
Tak hanya itu, penafsiran red string theory pada era modern juga meluas ke hubungan selain percintaan seperti pertemanan, keluarga, rekan kerja, dan hubungan lainnya.
Baca Juga: Penutup Tiang hingga Lampu Hias Raib, Landmark Kota Onde-Onde Tercoreng
Hal ini menjadi simbol bahwa segala hubungan penting dalam hidup sudah ditetapkan oleh takdir dan manusia hanya menjalani proses menuju pertemuan tersebut.
Namun perlu diketahui dan diingat bahwa, meskipun hal ini disebut dengan teori, red string theory tidak termasuk dalam teori ilmiah seperti fisika dan lainnya.
Teori benang merah adalah teori simbolik atau mitologis yang dipercaya oleh banyak orang sebagai harapan dan kepercayaan romantis.
FANEZA
Editor : Imron Arlado