Angkutan feeder ini merupakan layanan non-ekonomi yang melayani rute panjang dan penuh potensi wisata. Yang mana, menghubungkan Terminal Kertajaya Mojokerto hingga Terminal Kota Batu. Jalur yang ditempuh itu melintasi jalur pegunungan yang sejuk dan eksotis.
Berangkat dari Terminal Kertajaya Kota Mojokerto, minibus ini melewati berbagai titik seperti Jabon, Pacing, Dlanggu, Ngembeh, Kutorejo, Pesanggrahan, Pandan, Bundaran Pacet, Sendi. Lalu, memasuki jalur Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Kemudian, menuju kawasan Cangar, Bumiaji, hingga Alun-Alun dan Terminal Kota Wisata Batu.
Kembalinya rute ini beroperasi disambut antusias oleh masyarakat. Mereka yang berasal dari kalangan pekerja, pelancong, dan pelaku wisata yang kerap menggunakan jalur Mojokerto-Batu via Pacet sebagai alternatif perjalanan yang cepat dan menyenangkan.
’’Tadi dari melihat Porprov di Batu. Ini pulang ke Mojokerto,’’ ujar Surya, warga Kota Mojokerto.
Adanya angkutan itu terbilang menjadi jalur alternatif menuju Batu. Sebelum adanya moda tersebut, dirinya harus melintasi kawasan Pasuruan lalu ke Malang baru menuju Batu.
Atau, melintasi kawasan Jombang menuju Kabupaten Malang lalu Kota Batu. ’’Sekarang ada angkutan ini jadi bisa langsung ke Batu,’’ kata dia.
Sebelumnya, omzet operasional angkutan ini mengalami minus. Akibatnya, membuat angkutan non-ekonomi ini sempat berhenti sementara beberapa pekan.
Namun, menurut Yazid, dari hasil uji coba sepekan ini masih ada harapan trayek Mojokerto-Batu tetap beroperasi.
Kasi Dalops UPT P3 LLAJ Mojokerto Dishub Jatim Akhmad Yazid Hanya saja, dimungkinkan kedepannya akan ada penyesuaian jumlah armada yang beroperasi.
’’Kalau nanti (okupansi) di atas 70 persen, bisa dinormalkan lagi empat armada dan yang satu cadangan terus,’’ ungkap Yazid.
Masa percobaan ini dibarengi adanya perubahan jam operasional. Angkutan mulai mengaspal pukul 06.00; 09.00; 13.00 hingga terakhir pukul 16.30 dari Mojokerto maupun sebaliknya. Soal tarif, kata Yazid, dipastikannya masih belum ada perubahan.
Penumpang tujuan Pacet dari Mojokerto maupun Batu dikenakan separo tarif atau Rp 20 ribu. Dan dipatok biaya penuh Rp 40 ribu jika berangkat dari Mojokerto tujuan Batu atau sebaliknya.
Dalam waktu dekat, Dishub Jatim akan segera melakukan evaluasi bersama PO Bagong terkait hasil masa percobaan selama sepekan ini. ’’Sementara ini armadanya jalan setiap tiga jam sekali. Nanti akan kita evaluasi lagi setelah (uji coba) ini,’’ tukasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah