Sering Dikata “Cuma Bercanda”, Ini Tanda-Tanda Bullying pada Anak yang Sering Diabaikan Orang Dewasa

Imron Arlado • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 18:45 WIB
Perhatikan tanda-tanda bullying yang terjadi pada anak yang sering diabaikan oleh orang dewasa. (Foto:  La Fabbrica Dei Sogni/Unsplash)
Perhatikan tanda-tanda bullying yang terjadi pada anak yang sering diabaikan oleh orang dewasa. (Foto: La Fabbrica Dei Sogni/Unsplash)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Maraknya kasus bullying atau perundungan utamanya di sekolah, seringkali mendapatkan penanganan yang kurang serius baik dari wali murid/orang tua maupun dari pihak sekolah. Isu tersebut membuat kekerasan di lingkungan sekolah tidak selalu dilihat sebagai “bullying” dan berpotensi untuk dinormalisasikan oleh banyak orang.

Banyak miskonsepsi tentang kata “bercanda” yang banyak dijadikan dalih dan alasan untuk melakukan bullying. Jika pelaku bullying berlindung dengan kata “bercanda”, bukan otomatis perilakunya dianggap sebagai candaan belaka.

Baca Juga: Kenali Tren Whimsical yang Semakin Populer, Gaya Estetik yang Mengajak Berimajinasi

Perilaku kekerasan sering kali ditutupi dengan kalimat “cuma bercanda”, “jangan baper”, “jangan terlalu serius”, terutama jika hal tersebut dilakukan ke sesama anak kecil. Aduan tentang bullying yang disampaikan oleh anak kecil, terkadang sulit dipercayai oleh banyak orang dewasa. Padahal, yang perlu diperhatikan adalah niat dari pelaku serta beberapa aspek lain yang bisa diamati, seperti:

Ada beberapa pola yang sering ditemukan yang bisa dijadikan tanda apabila seorang anak mengalami bullying yang sering disangka sebagai candaan biasa, antara lain

Adapun tanda-tanda yang harus disadari oleh orang dewasa yang ditunjukkan oleh anak ketika ia menjadi korban bullying antara lain:

Tanda-tanda tersebut kerap kali diabaikan oleh orang dewasa karena tidak mempercayai ucapan anak.

Hal yang harus dilakukan oleh orang dewasa (utamanya orang tua dan guru) ketika mengetahui bahwa anak menjadi korban bullying yakni:

Namun, bullying dan konflik biasa juga memiliki perbedaan. Konflik biasa umumnya terjadi pada pihak dengan posisi yang setara, hanya terjadi sesekali, tidak selalu merendahkan, hingga bisa diselesaikan dan relasi mereka bisa kembali normal.

Sedangkan bullying cenderung terjadi secara berulang, tidak sekali dua kali, dilakukan karena adanya ketimpangan relasi (misalnya kakak kelas kepada adik kelas), melibatkan penghinaan hingga pengucilan, hingga korban selalu merasa tidak aman.

Perlu adanya kesadaran pada orang dewasa untuk terus memperhatikan anak dan tidak menganggap remeh apa yang anak ceritakan. Orang dewasa perlu untuk belajar mengenali perilaku yang selama ini dinormalisasikan sebagai candaan. Jangan sampai ketika anak sudah menunjukkan tanda-tanda sebagai korban bullying, orang dewasa justru mengabaikannya hingga terlambat dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada anak. NAVA

Editor : Imron Arlado
penghinaan kekerasan anak-anak bullying perundungan