JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Maraknya kasus bullying atau perundungan utamanya di sekolah, seringkali mendapatkan penanganan yang kurang serius baik dari wali murid/orang tua maupun dari pihak sekolah. Isu tersebut membuat kekerasan di lingkungan sekolah tidak selalu dilihat sebagai “bullying” dan berpotensi untuk dinormalisasikan oleh banyak orang.
Banyak miskonsepsi tentang kata “bercanda” yang banyak dijadikan dalih dan alasan untuk melakukan bullying. Jika pelaku bullying berlindung dengan kata “bercanda”, bukan otomatis perilakunya dianggap sebagai candaan belaka.
Baca Juga: Kenali Tren Whimsical yang Semakin Populer, Gaya Estetik yang Mengajak Berimajinasi
Perilaku kekerasan sering kali ditutupi dengan kalimat “cuma bercanda”, “jangan baper”, “jangan terlalu serius”, terutama jika hal tersebut dilakukan ke sesama anak kecil. Aduan tentang bullying yang disampaikan oleh anak kecil, terkadang sulit dipercayai oleh banyak orang dewasa. Padahal, yang perlu diperhatikan adalah niat dari pelaku serta beberapa aspek lain yang bisa diamati, seperti:
- Apakah perilaku tersebut merendahkan atau menyakiti korban baik secara fisik maupun mental serta verbal maupun nonverbal
- Apakah perilaku tersebut dilakukan secara berulang
- Apakah ada ketimpangan posisi
- Apakah korban merasa cemas, takut, dan tidak aman
- Apakah korban bisa dengan bebas untuk menghentikan perilaku tersebut
- Bagaimana respons korban saat perilaku tersebut dilakukan
Ada beberapa pola yang sering ditemukan yang bisa dijadikan tanda apabila seorang anak mengalami bullying yang sering disangka sebagai candaan biasa, antara lain
- Candaan berlebihan selalu ditujukan kepada anak yang sama
- Pelaku berhenti tertawa saat korban ikut bercanda atau membalikkan candaan mereka (ada ketimpangan relasi)
- Korban diminta untuk membuktikan bahwa ia tidak bawa perasaan (baper), seperti marah atau membalas balik
- Banyak orang tertawa tetapi korban diam
- Candaan yang berlebihan tersebut dilakukan di depan banyak orang (dipermalukan)
- Anak mulai menghindari tempat, situasi, bahkan orang tertentu
Adapun tanda-tanda yang harus disadari oleh orang dewasa yang ditunjukkan oleh anak ketika ia menjadi korban bullying antara lain:
- Keluhan fisik samar secara berulang
- Perubahan perilaku dan emosi anak, misalnya lebih pendiam atau mudah marah
- Menarik diri dari teman-temannya
- Barang sering hilang atau rusak berulang kali
- Perubahan pola makan dan tidur
- Prestasi akademik menurun atau kehilangan minat terhadap hal yang ia sukai sebelumnya
- Tiba-tiba tidak ingin sekolah
Tanda-tanda tersebut kerap kali diabaikan oleh orang dewasa karena tidak mempercayai ucapan anak.
Hal yang harus dilakukan oleh orang dewasa (utamanya orang tua dan guru) ketika mengetahui bahwa anak menjadi korban bullying yakni:
- Mendengarkan cerita anak sampai selesai
- Jangan langsung menyalahkan atau meragukan cerita anak bahkan menjudge perilaku anak
- Tanyakan kronologi kejadian secara perlahan
- Catat apabila ada indikasi pola yang berulang
- Koordinasikan dengan pihak-pihak tertentu (guru maupun wali murid)
- Pastikan anak tetap merasa aman
- Jangan memaksa korban untuk berdamai sebelum situasi aman
- Perhatikan aktivitas korban maupun pelaku
Namun, bullying dan konflik biasa juga memiliki perbedaan. Konflik biasa umumnya terjadi pada pihak dengan posisi yang setara, hanya terjadi sesekali, tidak selalu merendahkan, hingga bisa diselesaikan dan relasi mereka bisa kembali normal.
Sedangkan bullying cenderung terjadi secara berulang, tidak sekali dua kali, dilakukan karena adanya ketimpangan relasi (misalnya kakak kelas kepada adik kelas), melibatkan penghinaan hingga pengucilan, hingga korban selalu merasa tidak aman.
Perlu adanya kesadaran pada orang dewasa untuk terus memperhatikan anak dan tidak menganggap remeh apa yang anak ceritakan. Orang dewasa perlu untuk belajar mengenali perilaku yang selama ini dinormalisasikan sebagai candaan. Jangan sampai ketika anak sudah menunjukkan tanda-tanda sebagai korban bullying, orang dewasa justru mengabaikannya hingga terlambat dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada anak. NAVA
Editor : Imron Arlado