Istilah real food digunakan untuk menggambarkan makanan yang bentuk dan kandungannya masih mendekati bentuk alaminya, biasanya berupa makanan utuh yang masih segar, minim proses pengolahan pabrik, dan bebas dari berbagai zat kimia buatan.
Real food bukan berarti makanan tersebut dimakan mentah. Real food meminimalkan proses pengolahan, namun masih bisa mencakup makanan yang direbus, dikukus, dipanggang, atau dimasak.
Baca Juga: Puncak Musim Kemarau, Warga di Kota Mojokerto Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan
Apa perbedaan Real Food, Processed Food, dan Ultra-Processed Food?
-
Real food: Ciri utamanya terletak pada bentuk asli yang masih dipertahankan dan proses pengolahan makanan yang masih sangat sederhana. Misalnya, buah potong, sayur beku, telur, ikan, umbi-umbian, beras, kacang-kacangan, dan lain-lain.
-
Processed food: Pada tahap ini, makanan mengalami proses dan biasanya ditambahkan banyak bahan seperti garam, gula, minyak, dan lain-lain. Misalnya, keju, sayuran kaleng, ikan kaleng, roti, dan lain-lain.
-
Ultra-processed food: Biasanya, makanan ini merupakan produk industri dengan formulasi dan banyak tambahan untuk menciptakan makanan/minuman siap saji atau yang membutuhkan sedikit persiapan. Misalnya, minuman bersoda, snack kemasan, permen, makanan siap saji, bumbu instan, mi instan, dan lain-lain.
Tidak semua makanan yang diproses harus dianggap buruk. Perbedaannya adalah seberapa jauh makanan mengalami pemrosesan dan bahan apa yang ditambahkan di dalamnya.
Beberapa langkah untuk mengetahui apakah sebuah makanan minim proses ialah sebagai berikut:
- Perhatikan bentuk aslinya. Makanan minim proses semakin mudah dikenali bahan asalnya.
- Cek daftar bahan/ingredient list pada makanan kemasan termasuk jumlah dan jenis bahan yang digunakan. Apabila formulanya semakin kompleks, kemungkinan besar makanan tersebut telah melalui banyak proses.
- Jangan terpaku pada klaim di kemasan. Tetap lihat komposisi dan informasi gizinya.
- Perhatikan kandungan gula, garam, dan lemak.
- Pilih makanan/minuman dengan bentuk yang sederhana.
Cara memilih makanan yang minim proses tentu tidak bisa dilakukan secara langsung/sekaligus, melainkan harus bertahap agar lidah seseorang lebih mudah beradaptasi.
- Mulai tambahkan sayur atau buah setiap kali makan. Lakukan secara bertahap hingga mulai mengurangi konsumsi makanan ultra-processed.
- Sumber protein penting bisa diambil dari bahan sederhana seperti telur, tahu, atau tempe.
- Ganti camilan dengan buah atau kacang.
- Mulai untuk lebih sering memasak dengan bahan dasar sederhana dan kurangi konsumsi makanan instan.
- Tetap fokus pada pola makan secara keseluruhan.
Tidak realistis bagi pemula untuk langsung menghilangkan semua makanan ultraproses. Sehingga memang diperlukan secara bertahap dan konsisten. Makanan minim proses juga tidak selalu identik dengan makanan mahal.
Fenomena ini menjadi perubahan kecil di masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang gaya hidup sehat, sehingga sangat perlu untuk mengenali tingkat pemrosesan makanan, membaca komposisi makanan, hingga memahami apa yang ada di dalam makanan. NAVA
Editor : Imron Arlado