JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Apakah kalian pernah bertanya-tanya, mengapa kebanyakan musisi asal Indonesia lebih sering membuat lagu galau dengan genre seperti pop ballad atau pop melakonis yang menyentuh hati? Dan apa alasan di balik banyaknya warga Indonesia yang lebih menyukai lagu galau dengan tempo lambat daripada lagu rap ataupun lagu bersemangat dengan tempo cepat?
Lagu "galau" sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Rinto Harahap yang memopulerkan istilah "pop melakonis" lewat lirik yang menyayat hati, aransemen yang sendu juga menjadi salah satu faktor mengapa karya-karyanya mendominasi pasar di era 1970an.
Kemudian pada era 1980an, lagu bertema kesedihan berada di puncak popularitasnya dan melahirkan istilah "Pop Cengeng". Obbie Messakh merupakan penulis lagu spesialis patah hati yang paling produktif saat itu.
Lagu ciptaannya, Hati Yang Luka yang dinyanyikan oleh Betharia Sonata ini menjadi fenomena karena saking sedihnya, lagu ini sempat dilarang tayang di saluran televisi TVRI oleh Menteri Penerangan saat itu, yaitu Harmoko, karena dianggap merusak semangat bangsa.
Kemudian pada tahun 1989, Didi Kempot mulai merilis ratusan lagu patah hati yang diawali dengan lagu Cidro. Dan pada era 2000an, musik dari band-band seperti D'Masiv, Kerispatih, dan Peterpan atau Noah diberi label sebagai lagu galau oleh generasi muda modern.
Lalu, mengapa banyak musisi Indonesia lebih memilih untuk membuat lagu galau? Sebenarnya, yang membuat banyak musisi lebih memilih untuk membuat lagu galau adalah karena potensi pasarnya yang sangat besar dan jaminan pasti laku, selain itu karakter vokal penyanyi Indonesia sangat cocok untuk membawakan teknik bernyanyi pop ballad sehingga dapat membuat lagu galau terdengar jauh lebih hidup dan menyayat hati.
Tentu, alasan yang sebenarnya adalah untuk mengikuti kebiasaan konsumsi musik masyarakat, namun apa alasan sebenarnya di balik banyaknya warga Indonesia yang lebih menyukai lagu galau? Inilah beberapa alasan yang paling masuk akal.
Yang pertama, banyak warga Indonesia menjadikan lagu galau atau sedih sebagai sarana untuk meluapkan emosi atau membersihkan perasaan negatif secara sehat, inilah yang disebut dengan katarsis emosional.
Kemudian, kebanyakan orang merasa relate dengan lirik lagu galau, sehingga para pendengar tidak merasa sendirian dalam menghadapi sakitnya patah hati atau kesedihan.
Karena lagu galau kebanyakan bertempo lambat dan santai, banyak orang merasa bahwa tingkat stress mereka menurun setelah mendengarkannya, selain itu mendengarkan lagu galau dapat memberikan rasa rileks di tengah padatnya aktivitas.
Selain itu, faktor budaya dan sosial juga sangat berpengaruh, masyarakat Indonesia secara kultural akrab dengan karya seni atau cerita yang bernuansa sendu dan puitis, sehingga kebiasaan tersebut masih terbawa hingga saat ini.
Lagu galau juga dapat menjadi ruang refleksi diri, alunan musik yang syahdu memicu para pendengar untuk merenung dan mengenang memori masa lalu. KEYSHA
Editor : Imron Arlado