JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pemandangan tak biasa menyelimuti langit di sejumlah wilayah Kalimantan. Rona jingga pekat yang membentang luas di atas pemukiman warga memberikan nuansa mencekam, menyerupai suasana senja meski waktu masih menunjukkan tengah hari.
Fenomena ini bukanlah indahnya pantulan sinar matahari terbenam (sunset), melainkan pertanda buruk akibat paparan asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda.
Fenomena langit oranye kemerahan mulai menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Tengah sejak 19 September 2026 akibat kepungan kabut asap kebakaran lahan.
Baca Juga: Petugas Gabungan Sita Sajam Rakitan, Kartu Remi hingga Silet di Lapas Mojokerto
Pemandangan dramatis ini terlihat sangat jelas di kawasan Paduran Sebangau, Kabupaten Pulang Pisau, yang mana rona oranye pekat membentang mulai pukul 10.30 WIB hingga menjelang matahari terbenam.
Perubahan warna atmosfer di siang bolong tersebut menjadi gambaran nyata parahnya dampak partikel asap karhutla yang meredupkan paparan sinar matahari langsung di wilayah tersebut.
Secara ilmiah, BMKG dan pakar astronomi menerangkan bahwa fenomena mencekam tersebut dipicu oleh hamburan cahaya (Mie Scattering atau Rayleigh Scattering).
Tingginya tumpukan aerosol dan partikel mikro sisa kebakaran di udara bertindak sebagai penyaring gelombang pendek warna biru, sehingga hanya gelombang panjang berwarna oranye dan merah yang sanggup menembus atmosfer hingga tertangkap mata.
Kondisi ekstrem langit oranye pekat akibat karhutla ini memicu rentetan dampak buruk yang melumpuhkan kehidupan masyarakat. Data BMKG mencatat konsentrasi PM 2,5 melonjak hingga 1.142,9 µg/m³ yang masuk kategori berbahaya, melahirkan ancaman ISPA massal, asma, serta iritasi mata akibat paparan gas beracun dan abu.
Jarak pandang yang menyusut hingga tersisa 500 meter turut melumpuhkan transportasi darat, sungai, hingga penerbangan, sekaligus memaksa aktivitas sekolah dan ekonomi warga terhenti total.
Sebagai langkah penanganan, warga diimbau membatasi aktivitas luar rumah, menutup rapat ventilasi, dan wajib menggunakan masker berstandar tinggi seperti N95 atau KN95 saat terpaksa bepergian.
Selanjutnya, guna mengatasi krisis karhutla yang kian meluas, langkah penanganan darurat hingga mitigasi jangka panjang terus digencarkan. Pemerintah memprioritaskan penebalan pasukan darat dengan mengerahkan ribuan personel gabungan TNI, aparat, dan Satgas di area gambut, yang diperkuat lewat pemaksimalan Operasi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk memancing hujan.
Di sisi teknis dan regulasi, pembuat sekat kanal serta sumur bor permanen dibangun guna menjaga kelembapan lahan, diimbangi penegakan hukum tegas terhadap aktivitas pembakaran hutan dan pengawasan korporasi. Seluruh upaya ini disempurnakan melalui kolaborasi bersama para pakar, akademisi, dan lembaga adat untuk memperkuat edukasi publik serta tata kelola restorasi gambut yang berkelanjutan. (IRMA)
Editor : Imron Arlado