Dibalik Canggihnya AI, Ternyata Server Kecerdasan Ini Butuh Jutaan Liter Air

Imron Arlado • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 19:10 WIB
Ternyata AI Menyimpan Masalah dibalik Canggihnya (Radar Tuban)
Ternyata AI menyimpan masalah dibalik canggihnya.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di balik kecepatan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) dalam menjawab pertanyaan hingga memproses data rumit, terdapat proses yang tak terlihat oleh pengguna. Rangkaian server pusat data (data center) bernilai miliaran dolar di berbagai belahan dunia terus bekerja nonstop tanpa henti. Namun, untuk menjaga agar komputasi tingkat tinggi tersebut tidak mengalami panas berlebih (overheating), industri AI membutuhkan pasokan sumber daya yang sangat vital yakni air bersih.

Hingga 2026, lonjakan penggunaan teknologi AI secara global telah membawa tantangan baru bagi kelestarian lingkungan.

Pusat data mengonsumsi jutaan liter air segar setiap harinya yang digunakan sebagai sistem pendingin pendinginan evaporator (evaporative cooling). Proses pendinginan ini sangat krusial untuk menjaga ribuan unit pemproses grafis (GPU) tetap berada pada suhu operasional optimal saat melatih model bahasa berskala besar.

Baca Juga: Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto Tambah 13 Titik Sumur JIAT

Setiap 10 hingga 50 interaksi chat dengan AI menghabiskan sekitar 500 ml air, sedangkan pembuatan satu gambar berbasis AI menyedot 29 ml air. Dalam skala industri, satu pusat data besar membutuhkan hingga 5 juta galon air per hari, yang mana pengambilan air alami oleh pusat data Google saja telah menembus 37 miliar liter.

Angka ini diproyeksikan PBB akan terus meroket hingga 9,3 triliun liter per tahun pada 2030, sebuah jumlah yang setara dengan pemenuhan kebutuhan air dasar bagi 1,3 miliar orang.

Persoalan ini memicu perhatian serius di tengah ancaman krisis air global dan perubahan iklim. Sejumlah wilayah di Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia yang menjadi rumah bagi pusat-pusat data besar mulai merasakan tekanan terhadap pasokan air lokal.

Tingginya konsumsi air untuk pendingin server berisiko memicu kompetisi penggunaan sumber daya air antara kebutuhan industri teknologi, pertanian, dan pemukiman warga sekitar.

Terkait tantangan ekologis ini, sejumlah perusahaan pengembang AI global dan pengelola pusat data mulai mengalihkan fokus pada inovasi hijau. Langkah-langkah pengurangan terus dikembangkan, seperti penerapan sistem pendingin sirkulasi tertutup, penggunaan cairan pendingin khusus, hingga pemanfaatan air daur ulang untuk menekan penggunaan air bersih.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa transformasi digital yang serba virtual tetap memiliki jejak ekologis yang nyata di bumi. Keseimbangan antara percepatan inovasi teknologi dan perlindungan sumber daya alam kini menjadi ujian penting bagi masa depan industri kecerdasan buatan. IRMA

Editor : Imron Arlado
kecerdasan AI artificial intelegence Artificial Intelligence (AI) AI