JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Harga minyak mentah dunia yang mengalami kenaikan mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap harga bahan bakar minyak di Indonesia, khususnya Pertamax.
Konflik Geopolitik yang terjadi di Timur Tengah saat ini, khususnya di Selat Hormuz yang memberikan dampak terhadap ketidakstabilan dari harga minyak mentah dunia. Konflik yang tak kunjung berakhir membuat harga dari bahan bakar minyak naik.
Baca Juga: Makan di Tengah Sawah dengan View Gunung Penanggungan, Ada Kafe Loreomah Trawas
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto menjelaskan bahwa, konflik yang terjadi saat ini di Timur Tengah tepatnya di Selat Hormuz. Memiliki dampak yang lebih parah daripada konflik perang Ukraina-Rusia
“Nah yang terakhir ini, ketiga ini yang terbaru dan saya rasa ini mungkin salah satu yang terberat kita harus hadapi, karena dulu waktu perang Ukraina-Rusia tidak separah ini, dengan adanya perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz, ternyata dampaknya secara Global, selain ketersediaan energi dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil ya,” ujar Eko dikutip dari kompas.com.
Eko juga menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga BBM. Harga Pertamax berpotensi mencapai Rp20.000 per liter jika konflik Timur Tengah masih berlanjut dan harga minyak dunia belum kembali ke kisaran US$60-US$70 per barel.
“Harga pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka 18 ribu sampai 20 ribuan, karena belum ada indikasi penurunan harga minyak dunia,” kata Eko.
Eko berharap harga minyak global bisa segera turun kembali ke US$ 60-US$70 per barel agar harga dari BBM tidak naik.
“Katanya hari ini harga minyak dunia juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun 70 dollar per barel atau 60 dollar per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, kita doakan saja semoga itu bisa terjadi di waktu segera,” ungkapnya. AHDAN
Editor : Imron Arlado