JAWA POS RADAR MOJOKERTO- Saat ini di tengah maraknya pasar modern dan transaksi digital, dua pasar di Jawa ini memiliki cara unik yang berbeda dengan bertransaksi menggunakan gobog. Gobog merupakan koin tradisional atau suatu uang logam kuno berlubang yang dulunya digunakan sebagai alat tukar dan sekarang sudah dijadikan jimat atau benda magis.
Dua pasar tersebut adalah Pasar Keramat yang terletak di Pacet, Kabupaten Mojokerto. Sedangkan Pasar Papringan terletak di Temanggung, Jawa Tengah. Kedua pasar ini sama-sama mengusung tema “Pasar Bambu” dengan menggunakan mata uang lokal sebagai alat transaksi, akan tetapi punya karakter dan konsep yang berbeda.
Baca Juga: Makan di Tengah Sawah dengan View Gunung Penanggungan, Ada Kafe Loreomah Trawas
1. Sama-sama bertransaksi menggunakan koin dari bambu, tetapi beda nama dan nilai
Pasar Keramat buka setiap hari Minggu Wage dan Minggu Kliwon pukul 06.00-12.00 WIB. Lokasinya terletak Dusun Pong Boto, Warugunung, Kec. Pacet, Kabupaten Mojokerto. Setiap pengunjung wajib menukarkan uang rupiah dengan koin gobog/gobog dari sebuah bambu, sebelum berbelanja kuliner serta kerajinan di tengah rimbunnya pohon bambu.
Sedangkan Pasar Papringan terletak di Ngadiprono, Ngadimulyo, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, buka setiap hari Minggu Wage dan Minggu Pon pukul 06.00-12.00 WIB. Disini uang rupiah akan ditukar dengan uang yang terbuat dari bambu (pring)/koin bambu dalam berbagai nominal pecahan mulai dari 1 pring hingga 50 pring, kemudian setelah ditukar akan digunakan untuk membeli kuliner serta kerajinan yang di jual di bawah rumpun bambu.
Kedua pasar ini sama-sama menggunakan alat transaksi dari bambu, sehingga dengan adanya hal unik tersebut bambu menjadi sebuah kunci pengalaman belanja yang terasa bernostalgia ke masa lalu.
2. Inspirasi dari lintas provinsi : dari Pasar Papringan ke Pasar Keramat
Jika dilihat secara konsepnya, pasar keramat tidak muncul dari ruang hampa. Ide Pasar Keramat yang bertransaksi dengan menggunakan bambu mulanya terinspirasi dari Pasar Papringan, Temanggung Jawa Tengah yang telah dikenal lebih dulu. Pengelola dari pasar kramat mengadopsi filosofi yang cukup serupa dengan menciptakan ruang wisata sekaligus memperkenalkan serta melestarikan budaya lokal dan menguatkan ekonomi wilayah sekitar.
Mungkin yang membedakan diantara keduanya adalah “rasa” lokal yang dibangun. Di Pasar Papringan sangat kental dan khas dengan identitas masyarakat Temanggung yang agraris serta budaya menggunakan busana lurik dan suasana “jaman old” khas Jawa Tengah. Sementara Pasar Keramat dikemas sebagai salah satu destinasi wisata keluarga yang ada di kawasan Pacet-Trawas dengan nuansa alam pegunungan Jawa Timur serta penawaran kuliner khas dari Mojokerto.
3. Dua wajah dengan satu semangat, menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman
Jika dilihat dari segi fungsinya, dua pasar ini bukah hanya tempat untuk kulineran. Tempat ini tentunya menjadi ruang pertemuan sosial, panggung budaya informal, serta laboratorium ekonomi kreatif yang berbasis komunitas. Pedagang kebanyakan berasal dari warga sekitar yang menjual berbagai makanan tradisional, minuman jadul, kerajinan tangan, hingga persembahan musik tradisional.
Perbedaan keduanya tentu terlihat dari :
· Lokasi dan bentang alam : Papringan berada di ladang atau kawasan bambu di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Sedangkan Pasar Keramat di area wisata pegunungan Pacet, Mojokerto Jawa Timur.
· Jadwal Operasional : keduanya hanya buka di hari pasaran jawa tertentu, tetapi dengan pola dan frekuensi yang disesuaikan konteks lokal.
· Nama dan pecahan koin : di Pasar Papringan disebut sebagai “uang pring”,sedangkan di Pasar Keramat disebut “gobog/koin gobog” dengan sistem nilai masing-masing.
· Posisi dan ekowisata : Pasar Papringan sudah lebih dulu menjadi ikon wisata di Jawa Tengah. Sedangkan Pasar Keramat berkembang sebagai bagian dari salah satu klaster wisata Pacet-Trawas yang kini sedang naik daun di wilayah Jawa Timur.
Pada saat pasar tradisional sudah mulai tergerus oleh zaman Pasar Papringan dan Pasar Keramat justru menunjukkan bahwa suatu tradisi bisa “dijual”, sebagai pengalam wisata yang relevan. Koin yang terbuat dari bambu bukan hanya sekedar gimmick, melainkan cara menegaskan bahwa uang, pasar, serta budaya adalah satu kesatuan yang bisa dirancang ulang supaya tetap hidup. Dengan adanya kedua pasar ini, justru telah membuktikan bahwa sebuah bambu bukan hanya menjadi material bangunan atau kerajinan, akan tetapi tapi juga bisa menjadi “jantung” ekonomi kreatif yang bertujuan untuk menjaga tradisi supaya tetap bernapas di zaman sekarang.
Editor : Imron Arlado