JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Tas yang biasanya dibeli untuk digunakan sesuai fungsinya kini juga menjadi bagian dari penampilan sekaligus identitas anak muda. Gantungan kunci (keychain), pin, boneka, bag charm, dan aksesori lainnya semakin banyak menghiasi tas agar tidak terlihat sederhana.
Fenomena ini menunjukkan bahwa berbagai macam jenis charm dan karakter yang ditempel membuat tas yang awalnya polos menjadi sesuatu yang bisa mengekspresikan identitas pemiliknya, mulai dari karakter anime, film, boneka, K-Pop, sampai karakter lainnya sesuai kegemaran pemiliknya.
Baca Juga: Cegah Kebakaran di Lapas Mojokerto, Puluhan APAR Dicek Damkar
Era ini, fungsi tas bertambah dari tempat membawa barang menjadi bagian dari penampilan seseorang yang perlu diperhatikan. Muncullah tren tas yang berisik karena dipenuhi berbagai macam pilihan aksesori mulai dari photocard holder, merchandise karakter tertentu, hingga bag charm yang unik dan estetik.
Tas sengaja dibuat ramai, unik, mencolok, dan personal. Hal tersebut menunjukkan adanya konsumsi budaya pop yang dibawa ke kehidupan sehari-hari di dunia nyata, tidak hanya melalui gawai.
Setiap charm memiliki maknanya masing-masing, entah itu disesuaikan dengan gaya preferensi pemilik, tanda identitas bagian dari suatu fandom, hasil koleksi, dan lain-lain, sehingga charm berfungsi sebagai medium untuk menunjukkan kesukaan pemilik kepada ruang publik.
Tren tas berisik ini menarik bagi anak muda untuk menunjukkan identitas mereka secara tidak langsung, diselipi gaya yang tidak kaku dan tetap mengikuti zaman.
Aksesori pada tas tersebut menjadi cara bagi seseorang untuk memperkenalkan dirinya. Menghias tas memberikan seseorang ruang untuk mengekspresikan dan menunjukkan identitasnya sekaligus bereksperimen dengan mix and match.
Oleh karenanya, kini tas bukan lagi merupakan sebuah benda bernilai fungsi sebagai pembawa barang saja. Di balik tas dengan rentetan ornamen keychain, pin, bag charm, dan aksesori lainnya turut membawa cerita personal tentang pemiliknya, entah itu selera, koleksi, atau hobi. NAVA
Editor : Imron Arlado