Rawan Bencana atau Kaya Sumber Daya? Dilema Indonesia di Ring of Fire

Imron Arlado • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 11:30 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau (kiri) dan peta Ring of Fire (kanan). (Foto: Pemprov Lamong & Gringer/Wikipedia)
Erupsi Gunung Anak Krakatau (kiri) dan peta Ring of Fire (kanan). (Foto: Pemprov Lampung & Gringer/Wikipedia)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Indonesia termasuk salah satu negara yang berdiri di atas Ring of Fire. Hal tersebut membuat Indonesia berada di persimpangan antara ancaman bencana yang mematikan seperti erupsi gunung api, gempa bumi, hingga potensi tsunami.

Di sisi lain, tersimpan berbagai potensi sumber daya alam yang juga tidak bisa dipungkiri. Indonesia berada di posisi geologis yang menjadi sumber risiko sekaligus sumber kekayaan alam.

Apa itu Ring of Fire?

Istilah “Ring of Fire” mungkin terasa asing bagi beberapa orang. Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik merupakan jalur yang membentang di sekitar Samudra Pasifik dengan aktivitas gempa bumi dan letusan gunung berapi paling aktif di dunia.

Wilayah yang dilalui Ring of Fire di antaranya beberapa negara di Asia, Oseania, dan Amerika. Indonesia termasuk di antaranya.

Ring of Fire terbentuk karena pergerakan dan tumbukan lempeng tektonik. Indonesia sendiri berlokasi di pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Indo-Australia di selatan, Lempeng Eurasia di utara, dan Lempeng Pasifik di timur.

Gesekan antarlempeng tersebut bisa memicu gempa bumi dan melelehkan batuan menjadi magma dan membentuk gunung berapi.

Baca Juga: Gunung Lorokan di Pacet Mojokerto, Trek Santai dengan Pemandangan Menawan dan Ramah Pemula

Dilema Indonesia di Ring of Fire

Karena Indonesia dilewati oleh jalur Ring of Fire, tak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut meningkatkan potensi ancaman bencana seperti gempa bumi, erupsi gunung berapi, tsunami, hingga fenomena alam lainnya. Aktivitas seismik dan vulkanik meningkatkan potensi berbagai bencana alam tersebut.

Beberapa dampak dahsyat dari bencana tersebut pernah dirasakan di Indonesia, seperti erupsi Gunung Toba, Gunung Tambora, Gunung Krakatau, hingga gempa dan tsunami Aceh 2004 serta beberapa gempa dan erupsi gunung di Indonesia lainnya.

Namun, risiko bencana juga ditentukan oleh kepadatan penduduk, tata ruang, kualitas bangunan, dan kesiapan masyarakat dalam mitigasi bencana.

Di sisi lain, ada potensi yang masih bisa dimanfaatkan terkait letak Indonesia di Ring of Fire. Kandungan mineral dan hara yang ada pada abu vulkanik berkontribusi terhadap kesuburan tanah untuk mendukung sektor pertanian dan perkebunan. Aktivitas vulkanik dan tektonik bisa membantu proses pembentukan mineral.

Aktivitas magma di dalam bumi juga menghasilkan energi panas bumi (geotermal) sebagai alternatif bahan bakar fosil. Selain itu, bentuk alam sisa vulkanik bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata.

Baca Juga: Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan Terancam 10 Tahun Penjara

Indonesia memang memiliki potensi bencana yang lebih besar karena berada di Ring of Fire. Potensi bencana tersebut tidak bisa dihindari, melainkan masyarakatnyalah yang harus melakukan mitigasi bencana untuk meminimalkan dampak risiko.

Edukasi kebencanaan juga bisa dilakukan untuk menyebarkan kesadaran kepada masyarakat sekaligus melakukan simulasi rutin tindakan evakuasi. Pemerintah bisa memelihara sistem peringatan dini, pemetaan daerah rawan bencana, dan membangun infrastruktur yang mempertimbangkan risiko. 

Pada akhirnya, Indonesia memang tidak bisa menyangkal letaknya di Ring of Fire. Masyarakat harus siap hidup berdampingan dengan potensi bencana. Bencana memang tidak bisa dihindari, tapi dampaknya bisa diminimalisir dengan kesiapsiagaan warganya. Dengan begitu, risiko korban jiwa dan kerugian bisa berkurang. NAVA

Editor : Imron Arlado
tsunami vulkanik ring of fire gunung erupsi