JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang menyebabkan tingginya potensi bencana. Banyaknya gunung api aktif di kawasan ini menyebabkan gempa dan erupsi.
Masyarakat Indonesia harus siap hidup berdampingan dengan potensi bencana karena bencana memang tidak bisa dihindari. Dampak dari bencana bisa diminimalisir dengan kesiagaan warganya untuk menurunkan risiko korban jiwa dan kerugian.
Mengapa Gempa dan Erupsi Gunung Sering Terjadi?
Indonesia sendiri berlokasi di pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Lempeng tektonik terus bergerak sehingga terjadi subduksi. Pergesekan lempeng tersebut menimbulkan tekanan sehingga melepaskan gelombang seismik berupa gempa bumi.
Tabrakan lempeng juga mendorong batuan masuk ke dalam bumi dan meleleh menjadi magma. Magma yang ringan dan dipenuhi gas dengan tekanan tinggi akan terdorong naik ke permukaan bumi dan meletus sebagai erupsi.
Karena berada di Ring of Fire, Indonesia memiliki setidaknya 127 gunung api aktif dengan bermacam tipe dan jumlahnya terbanyak di dunia. Sehingga, selama lempeng bumi terus bergerak, gempa dan erupsi gunung akan terus berulang terjadi.
Saat sedang terjadi, gempa bumi dan erupsi gunung umumnya tidak hanya terjadi sekali. Biasanya akan terjadi gempa susulan dan erupsi selanjutnya dalam rentang waktu yang berdekatan.
Baca Juga: BMKG Juanda Prediksi Kemarau di Mojokerto Molor hingga November
Cara Menghadapi Gempa dan Erupsi Gunung
Berikut hal-hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi gempa bumi:
Sebelum gempa
- Hendaknya menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, minum dan makanan yang tahan lama, P3K, senter, dan obat pribadi
- Kenali jalur evakuasi dan tempat berlindung
Saat gempa terjadi
- Jika berada di dalam ruangan, menunduklah dan berlindung di bawah meja yang kuat. Lindungi kepala dengan menggunakan helm, bantal, atau tangan.
- Jika berada di luar ruangan, cari area yang terbuka dan jauhi bangunan tinggi, tiang listrik, pohon, papan baliho, atau apa pun yang berpotensi tumbang.
- Jika berada di dekat pantai, segera lari ke tempat tinggi untuk menghindari potensi tsunami.
- Jika berada di jalan, kurangi kecepatan dan arahkan kendaraan ke bahu jalan atau area yang terbuka, hindari objek yang berpotensi runtuh, kemudian matikan mesin dan tinggalkan kendaraan jika gempa lebih kuat.
Setelah gempa
- Keluar dari bangunan secara tertib menggunakan tangga darurat. Hindari menggunakan lift.
- Periksa dan tetap update info di area aman dan waspada terhadap gempa susulan.
Baca Juga: Dua Hari, Tiga Kebakaran Terjadi di Kota Mojokerto
Adapun cara menghadapi erupsi gunung api:
Sebelum erupsi
- Update dan pahami status gunung dari lembaga terkait
- Siapkan masker N95, kacamata pelindung, dan pakaian tertutup untuk menahan abu
- Pahami dan kenali batas radius zona bahaya dan rute evakuasi
Saat erupsi terjadi
- Jika berada di zona bahaya, segera evakuasi diri menghindari letusan abu vulkanik
- Jika berada di dalam bangunan, tutup seluruh jendela, pintu, dan celah apa pun agar abu tidak masuk.
- Jika berada di luar ruangan, hindari area lembah dan lereng gunung untuk meminimalkan risiko aliran lahar hujan dan awan panas
Setelah erupsi terjadi
- Bersihkan abu vulkanik dengan tetap menggunakan masker. Basahi menggunakan air terlebih dahulu agar partikel halus tidak terbang. Jangan dibersihkan dalam kondisi kering.
- Apabila abu terkena tubuh, basuh dengan air mengalir. Hindari menggosok bagian tubuh yang terkena abu karena abu bersifat tajam.
- Tetap gunakan masker, kacamata pelindung, dan pakaian tertutup saat beraktivitas di luar ruangan hingga kondisi udara dinyatakan aman.
Jangan lupa untuk tetap memantau keseluruhan informasi resmi yang tersedia:
-
BMKG untuk informasi gempa (Website Resmi BMKG)
-
PVMBG/MAGMA Indonesia untuk informasi aktivitas gunung api (Website Resmi PVMBG)
-
BNPB/BPBD untuk informasi kebencanaan dan evakuasi (Website Resmi BNBP)
Sadari potensi bencana sejak dini untuk melakukan mitigasi lebih awal demi mengurangi dan meminimalkan risiko bencana yang merugikan. NAVA
Editor : Imron Arlado