JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Kabut tipis perlahan turun di lereng Gunung Wilis. Udara dingin menyusup di sela-sela pepohonan yang tumbuh rapat mengelilingi rumah-rumah warga. Jalan desa tampak lengang. Sesekali suara sepeda motor memecah kesunyian, lalu kembali tenggelam bersama embusan angin pegunungan.
Di antara hijaunya perkebunan, berdiri rumah-rumah dengan bangunan kokoh dan halaman luas. Sebagian tampak begitu megah. Catnya masih baru, pagar menjulang, dan beberapa kendaraan terparkir di halaman. Namun, ada pemandangan yang terasa ganjil.
Baca Juga: Bupati Mojokerto Albarraa Gelontor Bantuan Alsintan dan Peternakan Rp 3,2 Miliar
Rumah-rumah itu memang ramai dari luar, tetapi tidak selalu demikian ketika pintunya dibuka. Di ruang tamu, tak jarang hanya ada seorang ayah, kakek, nenek, atau anak yang menghabiskan hari tanpa sosok ibu.
Itulah salah satu wajah Desa Pupus, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo.
Desa di lereng Gunung Wilis tersebut, telah lama bersentuhan dengan fenomena pekerja migran. Di banyak rumah, ada anggota keluarga yang menggantungkan penghidupan di negeri orang. Taiwan dan Hong Kong menjadi tujuan sebagian warga untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan.
Bagi masyarakat setempat, bekerja di luar negeri bukanlah bentuk pelarian, namun ialah pilihan tepat dan realistis untuk membangun ekonomi keluarga.
Dibuktikan saat ini wajah Desa Pupus semakin hari semakin berubah. Mulai dari perputaran ekonomi yang meningkat, kebutuhan hidup harian terpenuhi dengan baik, dan keluarga disingkirkan dari bayang-bayang garis kemiskinan.
Akan tetapi, di balik kehidupan masyarakat yang sejahtera dan sangat tercukupi, dilema ketergantungan semakin tumbuh. Bisa dilihat bahwa buruh migran menjadi tantangan tersendiri bagi desa ini.
Kebanyakan masyarakat yang masih umur produktif lebih memilih untuk beradu nasip ke luar negeri. Dampaknya mulai terasa, saat ini potensi lokal mulai dari pertanian maupun perkebunan sudah kehilangan regenerasi pengelolanya.
Sebab, perlu dipahami. Kemajuan sebuah desa tidak hanya terlihat dari rumah-rumah besar yang berdiri di sepanjang jalan.
Namun, ada cerita lain di baliknya. Tentang seorang ibu yang bekerja jauh di negeri orang. Tentang seorang anak yang belajar memahami arti rindu. Tentang ayah yang mengambil peran lebih besar di rumah. Dan tentang sebuah kampung di lereng Wilis yang perlahan menjadi lebih sejahtera, tetapi pada saat yang sama harus belajar menghadapi konsekuensi dari perubahan itu. IRMA
Editor : Imron Arlado