JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kapal perusak USS Benfold milik Angkatan Laut Amerika Serikat mengalami insiden serius ketika seluruh sistem listriknya mati total selama empat hari di Laut China Selatan. Kegagalan generator utama membuat kapal berbobot hampir 10 ribu ton itu kehilangan kemampuan operasional, termasuk radar, sistem navigasi, dan peluncur rudal.
Menurut laporan resmi Armada ke-7, tiga generator turbin gas Allison AG9140 gagal berfungsi secara bersamaan. Akibatnya, kapal tidak hanya kehilangan sistem tempur, tetapi juga fasilitas vital seperti pendingin udara, dapur, toilet, dan pasokan air bersih. Kondisi ini membuat ratusan awak kapal harus bertahan dalam suhu panas ekstrem di tengah laut.
Selama blackout, sebanyak 329 personel di atas kapal menghadapi tekanan fisik dan psikologis. Mantan kapten AL AS Carl Schuster menilai blackout berkepanjangan di laut lepas dapat menimbulkan stres ekstrem bagi awak kapal. Meski demikian, Armada ke-7 menegaskan tidak ada korban luka maupun jiwa dalam insiden tersebut.
Untuk mengatasi keadaan darurat, kapal induk USS George Washington dan kapal penjelajah USS Robert Smalls segera memberikan bantuan logistik berupa makanan serta dukungan teknis. Namun, karena kerusakan generator tidak bisa diperbaiki di tengah laut, USS Benfold akhirnya ditarik menggunakan tugboat komersial menuju Subic Bay, Filipina.
Perbaikan kapal berlangsung intensif pada awal Agustus 2026. Setelah seluruh sistem listrik berhasil dipulihkan, USS Benfold kembali bertugas dari pangkalan Yokosuka, Jepang, pada 8 Agustus 2026. Insiden ini menjadi catatan penting bagi Angkatan Laut AS terkait kerentanan teknis kapal perang modern.
Kejadian mati listrik di Laut China Selatan memiliki signifikansi strategis karena terjadi di kawasan dengan eskalasi geopolitik tinggi. Kehilangan daya selama berhari-hari menunjukkan bahwa ancaman terhadap kapal perang tidak selalu datang dari serangan musuh, melainkan juga dari kegagalan teknis internal. Hal ini menegaskan perlunya sistem cadangan yang lebih kuat untuk menjaga kesiapan tempur di wilayah sensitif.
KALKY
Editor : Imron Arlado