JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Tradisi upacara bendera di puncak Gunung Penanggungan kembali menjadi magnet bagi para pendaki pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8). Sejak malam hari, ribuan pendaki memadati berbagai jalur menuju puncak untuk mengikuti prosesi sakral di ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut.
Suasana khidmat terasa saat lagu Indonesia Raya berkumandang di puncak yang juga dikenal sebagai Pawitra. Usai upacara, para pendaki bersama-sama membentangkan bendera Merah Putih berukuran panjang mengelilingi kawasan puncak sebagai simbol persatuan dan kecintaan terhadap Tanah Air.
Rahma, pendaki asal Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, mengaku telah dua kali mengikuti upacara kemerdekaan di Penanggungan, yakni pada 2024 dan 2026. Ia memulai pendakian melalui jalur Tamiajeng sejak pukul 02.00 WIB agar tiba sebelum upacara dimulai.
“Momen paling berkesan saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Semua peserta berdiri dan menyanyikannya bersama dengan penuh semangat,” ujarnya.
Sementara itu, Findy, pendaki asal Magetan, untuk pertama kalinya mengikuti upacara kemerdekaan di Gunung Penanggungan. Ia berangkat sejak pukul 23.00 WIB dan memilih jalur Tamiajeng karena dinilai sebagai jalur yang paling bersahabat bagi pendaki, meski tetap menguji fisik dan mental.
Findy mengaku memilih Penanggungan bukan tanpa alasan. Selain memungkinkan melakukan pendakian tektok tanpa harus berkemah, ia juga ingin mewujudkan keinginan mendaki seluruh puncak gunung yang ada di Mojokerto.
“Melihat ribuan orang rela berjuang mencapai puncak untuk mengikuti upacara bendera menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia masih mencintai, menghargai para pahlawan, dan bangga terhadap negara Indonesia,” tuturnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Ngopi dengan View Gunung, Nawasena Pacet Punya Fasilitas yang Bikin Betah
Suasana perkemahan yang begitu hidup sejak malam hari. Tenda-tenda tampak berjejer di sepanjang jalur hingga kawasan puncak bayangan, menciptakan pemandangan hangat di tengah dinginnya Gunung Penanggungan.
Ramainya pendaki turut membawa berkah bagi warga di kaki gunung. Kawasan pintu masuk jalur Tamiajeng, Kedungudi, hingga Sumber Lumpang dipadati kendaraan pendaki yang memanfaatkan lahan parkir milik warga. Warung makan, penjual minuman, hingga jasa parkir pun ikut merasakan meningkatnya aktivitas ekonomi pada tradisi tahunan tersebut.YOLANDA
Editor : Imron Arlado