Desa di Mojokerto Ini Menyimpan Jejak Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Lereng Gunung Anjasmoro

Imron Arlado • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:50 WIB
Monumen Tugu Peluru yang ada di Desa Gumeng
Monumen Tugu Peluru yang ada di Desa Gumeng

 JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Desa Gumeng adalah desa terpencil di lereng Pegunungan Anjasmoro, di  Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Nama Gumeng berasal dari gabungan kata bahasa Jawa yaitu “Gumantung” (tergantung/menggantung) dan “Emeng” (khawatir/prihatin). Desa Gumeng berdiri sejak tahun 1920 sebagai kawasan pertanian.

Ukuran luas desa ini adalah sekitar 0,75 km2. Desa ini terkenal dengan suasana alam yang asri, kawasan berbukit, serta sejarah perjuangan kemerdekaan. Lokasi ini berada di ujung Selatan Kecamatan Gondang. Dan juga dikelilingi oleh hutan dan perbukitan. Akses menuju ke jalan raya Gondang dari desa ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit atau 5km.

Mayoritas warga di desa tersebut bekerja sebagai petani. Selain itu,  memiliki potensi alam yang menarik yaitu area bumi perkemahan Padang Aling. Disana juga terdapat monumen perjuangan berbentuk tugu peluru yang menjadi penanda pertempuran antara tentara Belanda pada Desember 1948 dibawah pimpinan Danki Soenarjo.

Baca Juga: Kesaksian Robiatul, Korban Ledakan Dapur MBG Medali Mojokerto, Sempat Terpental hingga 2 Meter 

Untuk menghormati para pahlawan yang gugur, pemerintah bersama warga membangun Tugu Gumeng atau sering disebut dengan Tugu Peluru. Dibagian depan tugu, dipahat prasasti yang memuat nama-nama prajurit dari Batalyon 35 Gajah Mada (Komando Ronggoloawe/516) yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Bagian paling bersejarah di desa ini yaitu terjadi selama masa perang untuk mempertahankan kemerdekaan, dan pada saat meletusnya Agresi Militer Belanda II. Pertempuran sengit pada tanggal 31 Desember 1948, terjadi kontak senjata hebat antara tentara Indonesia melawan pasukan penjajahan Belanda. Yang dipimpin oleh Komandan Kompi (Danki) Kapten Sunaryo dibawah komando Mayor Bambang Yuwono. ANGGUN

Editor : Imron Arlado
gumeng tugu peluru gondang sejarah mojokerto