Mengapa Membaca Kini Menjadi Sangat Berat untuk Otak Kita? Berikut Penjelasannya

Imron Arlado • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 17:09 WIB
Pengaruh internet yang berlebih dapat menurunkan minat baca seseorang, dan membuat fokus lebih mudah teralihkan.
Pengaruh internet yang berlebih dapat menurunkan minat baca seseorang, dan membuat fokus lebih mudah teralihkan.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pernahkah anda merasa malas dan berat ketika membaca suatu hal dan pikiran yang selalu melayang kemana-mana? Fenomena ini bukan karena mendadak menjadi malas atau menjadi bodoh. Ada alasan ilmiah dan psikologis mengapa aktivitas yang dulunya menyenangkan, kini terasa sangat berat.

Penyebab utama dari masalah ini adalah perubahan cara kerja otak akibat paparan media sosial. Algoritma internet dirancang untuk memberikan kepuasan secara instan. Video berdurasi 15 detik, cuitan pendek, dan visual yang bergerak cepat memberikan otak kita hormon dopamin yang memicu rasa senang dalam waktu yang singkat.

Baca Juga: Puncak Kemarau, Potensi Kebakaran Meningkat

Sebaliknya, membaca buku adalah proses yang lambat. Membaca menuntut otak untuk memahami kata demi kata, membangun imajinasi secara mandiri, dan bersabar untuk mengetahui akhir dari yang kita baca. Ketika otak yang sudah terbiasa dengan medsos dipaksa untuk membaca buku, otak akan merasa bosan dan menganggap aktivitas tersebut sebagai sesuatu yang berat.

Baca Juga: Mantan Manajer Homestay Divonis 1,5 Tahun

Setiap hari, kita membaca berita sekilas, dan caption di internet dengan melompati kata untuk mencari inti informasi secara cepat. Kebiasaan ini dapat merusak kemampuan otak untuk melakukan deep reading, yaitu proses membaca secara mendalam yang membutuhkan analisis, dan konsentrasi penuh. Akibatnya, saat dihadapkan pada teks yang panjang, otak kita akan langsung mengalami kelelahan.

Tapi situasi ini belum terlambat untuk diatasi. Otak manusia memiliki sifat neuroplasticity, yaitu kemampuan untuk berubah, dan beradaptasi kembali. Jika kita mampu melatih otak sehingga berada pada tahap kecanduan internet, maka kita pun memiliki kemampuan yang sama untuk kembali agar dapat mendalami sebuah buku. FIRLY 

Editor : Imron Arlado
malas membaca gagal fokus neuroplasticity alasan psikologis kecanduan media sosial