Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Fenomena Bediding, Suhu Malam di Jawa Timur Terasa Nyess: BMKG Imbau Warga Siapkan Jaket Tebal

Imron Arlado • Jumat, 3 Juli 2026 | 18:28 WIB

Fenomena Hujan Es Guyur Tangerang dan Sekitarnya, BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem (sumber foto: Pinterest)Hawa dingin "bediding" melanda Jatim

JAWA POS RADAR MOJOKERTO -  Udara malam di berbagai daerah di Jawa Timur belakangan ini terasa lebih menusuk tulang. Fenomena suhu dingin yang terjadi sejak selepas magrib hingga menjelang subuh membuat warga di kawasan urban maupun pedesaan harus mendekap jaket lebih erat. Usut punya usut, kondisi dingin yang bikin merinding ini merupakan siklus tahunan yang dikenal masyarakat Jawa Timur dengan istilah musim bediding.

Tidak hanya dirasakan oleh warga di kawasan dataran tinggi seperti Batu, Malang, Magetan, atau Pacet, hawa dingin ini juga dirasakan warga di dataran rendah dan pesisir. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, hingga Pasuruan.

Baca Juga: Panen Tebu di Kota Mojokerto Dukung Swasembada Gula Nasional 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengonfirmasi bahwa penurunan suhu ini merupakan fenomena alamiah yang wajar terjadi. Khususnya, saat wilayah Jawa Timur memasuki puncak musim kemarau.

Prakirawan BMKG, Linda Fitrotul menerangkan, ada faktor meteorologis utama yang memicu hawa dingin menyengat ini di wilayah Jatim. Salah satunya adalah pergerakan Angin Monsun Australia. "Saat ini Australia sedang mengalami puncak musim dingin. Tekanan udara yang tinggi di sana mengalirkan massa udara dingin dan kering menuju Indonesia melewati Samudra Hindia," terangnya.

Selain faktor embusan angin dari Benua Kangguru tersebut, minimnya tutupan awan (clear sky) di atas langit Jawa Timur saat kemarau mempercepat pelepasan panas bumi. Jika pada musim hujan awan berfungsi layaknya selimut yang menahan panas, maka saat kemarau 'selimut' itu hilang sama sekali.

Dampaknya, radiasi panas matahari yang diterima bumi Jatim pada siang hari langsung dilepaskan kembali ke atmosfer secara instan begitu matahari tenggelam. Ditambah lagi dengan karakteristik kelembapan udara yang sangat rendah, membuat atmosfer tidak mampu menyimpan cadangan panas dengan baik pada malam hari.

Menurut BMKG, kondisi bediding ini diperkirakan masih akan setia menemani hari-hari warga Jatim hingga bulan September mendatang.

Di sisi lain, BMKG juga meminta masyarakat Jatim untuk tidak termakan hoaks terkait fenomena aphelion atau isu posisi jarak terjauh bumi dan matahari yang kerap dituding di media sosial sebagai penyebab utama dinginnya cuaca. Lewat pernyataan resmi BMKG pusat, dijelaskan bahwa posisi astronomis tersebut sama sekali tidak memengaruhi suhu di permukaan secara drastis. Penurunan suhu murni dikontrol oleh dinamika atmosfer lokal dan pergerakan angin musiman.

Baca Juga: Tiga Hari, Warga di Mojokerto Temukan Dua Mayat

Mengingat suhu udara malam hari di kawasan dataran tinggi dan pegunungan Jawa Timur bisa melorot hingga di bawah 15 derajat celsius, bahkan berpotensi memicu embun upas (embun es) di kawasan Gunung Bromo dan Semeru. Masyarakat diimbau lebih waspada terhadap potensi penurunan imunitas tubuh.

Penyakit seperti flu, batuk, hingga gangguan pernapasan rawan mengintai di tengah perubahan suhu yang kontras antara siang yang terik dan malam yang dingin.

Penggunaan pakaian hangat, menjaga asupan cairan, serta memakai jaket tebal saat berkendara sangat disarankan, terutama bagi warga Jatim yang sering beraktivitas di luar ruangan pada malam dan subuh. DINA

Editor : Imron Arlado
#suhu dingin #imbauan #Fenomena Bediding #BMKG #Jawa Timur