JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di tengah kemajuan teknologi yang semakin cepat, muncul fenomena menarik di kalangan Generasi Z. Sebagian banyak anak muda mulai tertarik pada berbagai barang lawas yang pernah populer pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Mulai dari kamera digital saku, headset kabel, pemutar MP3, konsol gim retro, kaset musik, piringan hitam (vinyl), hingga ponsel model lama kembali menjadi incaran.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terlihat di berbagai negara. Sepanjang 2026, tren nostalgia terus berkembang dan menjadi bagian dari gaya hidup anak muda modern.
Di beberapa tahun lalu, banyak orang menganggap barang-barang lama sudah tidak relevan karena telah digantikan oleh teknologi yang lebih canggih. Tetapi kenyataannya, banyak produk lawas justru kembali populer.
Salah satu contohnya yaitu kamera digital saku atau digital pocket camera. Banyak Generasi Z sengaja membeli kamera keluaran awal tahun 2000-an karena hasil fotonya dianggap lebih unik, natural, dan memiliki karakter yang berbeda dari kamera smartphone modern.
Headset kabel juga mengalami hal serupa. Di saat perangkat nirkabel semakin mendominasi pasar, sebagian anak muda justru memilih kembali menggunakan headset kabel karena dianggap lebih praktis, tidak perlu diisi daya, dan memiliki kualitas suara yang stabil.
Perkembangan media sosial memiliki peran besar dalam menghidupkan kembali tren nostalgia. Melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan platform lainnya, banyak kreator konten membagikan pengalaman menggunakan barang-barang lawas.
Video yang menampilkan hasil foto kamera jadul, koleksi kaset musik, atau suasana khas awal tahun 2000-an sering menarik perhatian jutaan pengguna terutama anak muda.
Bahkan sebagian anak muda yang sebenarnya tidak pernah hidup pada era tersebut menjadi penasaran setelah melihat konten-konten tersebut. Tetapi mereka tetap merasa tertarik pada produk dan budaya dari masa lalu.
Fenomena ini sering disebut sebagai "borrowed nostalgia" atau nostalgia yang diperoleh dari cerita, film, internet, dan media sosial. Jadi, media sosial membuat budaya lama yang sempat terlupakan kembali dikenal oleh generasi baru.
Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi internet cepat, media sosial, smartphone, dan layanan digital yang serba instan. Karena sudah terbiasa dengan teknologi modern, sebagian anak muda mulai mencari pengalaman yang terasa berbeda.
Contohnya, mendengarkan musik melalui piringan hitam atau kaset dianggap memberikan pengalaman yang lebih personal dibandingkan sekadar membuka aplikasi streaming
Sebagian anak muda juga menjadikan barang-barang retro sebagai bagian dari identitas diri dan cara untuk menunjukkan karakter mereka. Karena itulah tidak sedikit barang lawas yang kini memiliki harga lebih tinggi dibanding beberapa produk baru.
Popularitas barang lawas juga tidak lepas dari tren Y2K yang masih bertahan hingga 2026. Y2K merupakan gaya yang terinspirasi dari akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Tren ini terlihat dalam dunia fashion, musik, desain, hingga teknologi.
Kembalinya celana longgar, ponsel lipat, kamera digital saku, warna-warna cerah, hingga aksesori khas era 2000-an menunjukkan bahwa pengaruh Y2K masih sangat kuat di kalangan anak muda.
Alasan lainnya yaitu meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan. Sebagian Generasi Z mulai menerapkan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Mereka memilih membeli barang bekas yang masih layak pakai dibandingkan terus membeli produk baru.
Meskipun tren selalu berubah dari waktu ke waktu, banyak pengamat menilai bahwa nostalgia masih akan memiliki tempat di hati Generasi Z. Karena tren ini tidak hanya berkaitan dengan barang, tetapi juga emosi, pengalaman, dan cara seseorang mengekspresikan dirinya.
Kemungkinan besar yang akan terjadi bukanlah kembalinya kehidupan masa lalu secara penuh, melainkan perpaduan antara teknologi modern dan sentuhan klasik.
Generasi Z tetap menggunakan smartphone, internet, dan media sosial setiap hari, tetapi mereka juga menikmati pengalaman menggunakan barang-barang yang memiliki nuansa masa lalu.
LULUS
Editor : Imron Arlado