JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di beberapa tahun terakhir ini, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berlangsung dengan cepat.
Jika sebelumnya AI hanya digunakan oleh perusahaan teknologi atau kalangan tertentu, kini teknologi tersebut sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bahkan bagi Generasi Z, AI mulai menjadi alat yang digunakan hampir setiap hari untuk belajar, bekerja, mencari informasi, hingga membuat konten di media sosial.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan menarik. Apakah kedekatan Generasi Z dengan AI hanya sebuah tren teknologi yang sedang populer, atau justru menjadi perubahan gaya hidup yang akan bertahan dalam jangka panjang?
Di 2026, AI tidak lagi sekadar teknologi canggih yang sulit diakses. Berbagai layanan AI kini tersedia melalui ponsel dan komputer yang digunakan sehari-hari.
Sebagian banyak pelajar memanfaatkan AI untuk membantu memahami pelajaran, membuat rangkuman materi, mencari referensi, hingga berlatih mengerjakan soal.
Di kalangan mahasiswa, AI sering digunakan untuk membantu riset materi, menyusun presentasi, menerjemahkan dokumen, dan mencari ide tugas harian.
Sementara itu, bagi Generasi Z yang sudah bekerja, AI digunakan untuk membuat laporan, menyusun jadwal kerja, mengolah data, membuat desain sederhana, hingga membantu komunikasi dengan pelanggan.
AI juga semakin sering digunakan dalam dunia kreatif. Banyak kreator konten memanfaatkan AI untuk mencari ide video, membuat naskah, mengedit gambar, menghasilkan ilustrasi, hingga membuat musik dan video pendek. Karena manfaatnya yang luas, AI perlahan berubah dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari rutinitas harian.
Baca Juga: Demi Penuhi Kebutuhan Tersangka Selama di Penjara, Keluarga Obral Mainan Milik Satuan
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan smartphone. Karena sudah terbiasa dengan perkembangan teknologi sejak kecil, mereka cenderung lebih cepat menerima inovasi baru dibandingkan generasi sebelumnya.
Tetapi, sebagian besar Generasi Z masih menyadari bahwa AI bukanlah sumber informasi yang selalu benar. Banyak pengguna muda tetap melakukan pengecekan ulang terhadap informasi penting yang diberikan AI.
Perkembangan penggunaan AI di Indonesia juga berlangsung sangat cepat. Pemerintah bahkan mendorong pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia.
Data yang dirilis pada 2026 menunjukkan bahwa sekitar 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan AI generatif dalam aktivitas pekerjaan mereka.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat penggunaan AI yang cukup tinggi dibandingkan dengan rata-rata global.
Inilah beberapa alasan yang membuat AI begitu cepat diterima oleh generasi muda:
1. Menghemat Waktu
AI mampu menyelesaikan berbagai tugas dalam hitungan detik. Pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan lebih cepat dengan bantuan AI.
2. Mudah Digunakan
Sebagian besar aplikasi AI saat ini dirancang dengan tampilan sederhana sehingga mudah digunakan oleh siapa saja, termasuk pelajar dan mahasiswa.
3. Membantu Belajar
AI dapat menjelaskan materi pelajaran, menjawab pertanyaan, memberikan contoh soal, bahkan membantu memahami topik yang rumit dengan bahasa yang lebih sederhana.
4. Mendukung Kreativitas
AI juga membantu pengguna menghasilkan ide baru, membuat desain, menulis artikel, hingga mengembangkan proyek kreatif dengan lebih cepat.
5. Tersedia Kapan Saja
Tidak seperti guru, dosen, atau rekan kerja yang memiliki keterbatasan waktu, AI dapat diakses selama 24 jam sehingga sangat praktis digunakan saat dibutuhkan.
Baca Juga: Hasil Pertandingan Piala Dunia 2026 17 Juni: Messi Hattrick, Mbappe & Haaland Bersinar
Di balik berbagai manfaatnya, penggunaan AI yang semakin intensif juga menimbulkan sejumlah kekhawatiran. Salah satu yang paling sering dibahas adalah risiko ketergantungan teknologi.
Di saat semua jawaban bisa diperoleh dengan cepat melalui AI, sebagian orang khawatir kemampuan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dapat menurun.
Ada juga kekhawatiran bahwa sebagian pelajar menjadi terlalu bergantung pada AI saat mengerjakan tugas, sehingga proses belajar yang sebenarnya justru berkurang.
Jika diperhatikan, AI juga mulai hadir dalam hampir seluruh aktivitas digital. Mulai dari mencari informasi, berbelanja online, menggunakan aplikasi navigasi, membuat konten media sosial, belajar bahasa asing, mengatur jadwal harian, hingga mencari rekomendasi hiburan, semuanya semakin banyak melibatkan teknologi AI.
Fenomena tersebut telah menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar alat tambahan, melainkan mulai menjadi bagian dari gaya hidup modern sekarang ini.
Situasinya mirip dengan perkembangan smartphone satu dekade lalu. Pada awal kemunculannya, smartphone dianggap sebagai teknologi baru yang hanya digunakan sebagian orang. Tetapi seiring waktu, smartphone menjadi kebutuhan sehari-hari yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
Meskipun AI menawarkan banyak kemudahan, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:
-
Menjaga kemampuan berpikir kritis agar tidak sepenuhnya bergantung pada AI.
-
Memastikan informasi yang diperoleh tetap diverifikasi dari sumber terpercaya.
-
Menjaga privasi dan keamanan data pribadi saat menggunakan layanan AI.
-
Mengembangkan keterampilan yang tidak mudah digantikan teknologi, seperti kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan memecahkan masalah.
-
Menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab.
Meskipun masih ada berbagai tantangan seperti risiko ketergantungan, penyebaran informasi yang tidak akurat, dan perubahan di dunia kerja, AI diperkirakan akan terus berkembang dan semakin terintegrasi dalam kehidupan masyarakat.
Jadi, AI tampaknya bukan hanya fenomena sesaat. Teknologi ini berpotensi menjadi salah satu fondasi utama gaya hidup digital modern, di mana manusia dan kecerdasan buatan akan semakin sering bekerja berdampingan dalam berbagai aspek kehidupan.
LULUS
Editor : Imron Arlado