JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Perayaan Malam Satu Suro kembali menjadi momen penting bagi masyarakat Jawa dalam menyambut tahun baru Jawa. Berbagai tradisi dan kegiatan budaya digelar di sejumlah daerah sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Malam Satu Suro yang menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa tidak hanya dipandang sebagai peristiwa budaya, tetapi juga menjadi sarana refleksi diri, peningkatan spiritualitas, serta penguatan nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Sejumlah warga memanfaatkan malam tersebut untuk mengikuti tirakatan, doa bersama, dan kegiatan sosial yang berlangsung dengan khidmat.
Di berbagai wilayah Jawa Timur, termasuk Mojokerto, masyarakat mengadakan kegiatan tirakatan di balai desa, pendopo, dan tempat-tempat bersejarah.
Acara biasanya diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama dan tokoh masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pesan-pesan moral mengenai pentingnya menjaga persatuan dan melestarikan budaya daerah.
Selain tirakatan, sejumlah daerah juga menggelar kirab budaya yang menampilkan berbagai kesenian tradisional.
Peserta kirab mengenakan pakaian adat Jawa sambil membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang telah diperoleh selama setahun terakhir.
Tradisi tersebut menarik perhatian masyarakat dan menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Baca Juga: Setahun, 854 Ribu Penumpang Naik Trans Jatim Koridor VI
Seorang budayawan menjelaskan bahwa Malam Satu Suro memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Menurutnya, bulan Suro mengajarkan pentingnya introspeksi diri, pengendalian sikap, serta menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia dan lingkungan sekitar.
"Tradisi Satu Suro bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga mengandung nilai-nilai filosofi yang mengajarkan kebijaksanaan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur," ujarnya.
Di sisi lain, pelaksanaan tradisi Malam Satu Suro juga memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi lokal.
Kehadiran pengunjung yang datang untuk menyaksikan berbagai kegiatan budaya meningkatkan aktivitas perdagangan, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan makanan, minuman, serta kerajinan khas daerah.
Pemerintah daerah turut mendukung penyelenggaraan kegiatan budaya tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.
Berbagai program pembinaan seni dan budaya terus dilakukan agar generasi muda semakin mengenal serta mencintai tradisi yang menjadi identitas masyarakat Jawa.
Meski perkembangan teknologi dan modernisasi terus berlangsung, antusiasme masyarakat dalam mengikuti tradisi Malam Satu Suro menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya lokal masih tetap hidup dan relevan.
Banyak kalangan menilai tradisi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan pelestarian kearifan lokal.
Dengan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur, peringatan Malam Satu Suro 2026 diharapkan dapat terus menjadi sarana memperkuat identitas budaya bangsa sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan tradisi yang dimiliki Indonesia.
CINDY
Editor : Imron Arlado