JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hari Waisak pada tahun 2026 merupakan hari raya paling penting bagi umat Buddha di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Perayaan tersebut bukan hanya sekadar acara keagamaan, tetapi juga menjadi momen untuk merenungkan kehidupan, memperbaiki diri, dan menebarkan nilai kasih sayang dan perdamaian.
Di tahun 2026, Hari Raya Waisak diperingati pada Minggu, 31 Mei 2026, dan ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia. Setiap tahunnya, pusat perayaan Waisak nasional biasanya berlangsung di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, dan dihadiri ribuan umat Buddha dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Hari Waisak merupakan hari suci umat Buddha yang memperingati tiga peristiwa besar dalam kehidupan Buddha Gautama. Karena memperingati tiga peristiwa penting sekaligus, Waisak juga dikenal dengan sebutan Hari Tri Suci Waisak.
Tiga peristiwa tersebut yaitu:
-
Kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama
-
Saat Siddhartha mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha
-
Wafatnya Buddha Gautama atau Parinibbana
Ketiga peristiwa tersebut dipercaya terjadi pada waktu bulan purnama di bulan Vaisakha dalam kalender Buddhis. Bagi umat Buddha, Waisak menjadi simbol perjalanan hidup manusia untuk mencapai kebijaksanaan, kedamaian batin, dan terbebas dari penderitaan.
Sejarah Waisak berkaitan erat dengan kehidupan Siddhartha Gautama yang lahir sebagai seorang pangeran di Lumbini, wilayah yang kini masuk Nepal. Meskipun hidup dalam kemewahan, Siddhartha merasa kehidupan istana tidak membuat manusia benar-benar bahagia.
Saat keluar dari istana, ia melihat kenyataan hidup seperti orang sakit, orang tua, dan kematian. Dari situ, Siddhartha mulai mencari jawaban tentang cara mengatasi penderitaan manusia.
Ia kemudian meninggalkan kehidupan kerajaan dan menjalani kehidupan sederhana untuk mencari pencerahan. Setelah bertahun-tahun bermeditasi, Siddhartha akhirnya mencapai pencerahan di bawah Pohon Bodhi dan dikenal sebagai Buddha Gautama, yang berarti “orang yang tercerahkan”.
Buddha juga mengajarkan Dharma atau ajaran kebenaran tentang kehidupan, kebajikan, dan jalan menuju kedamaian batin. Perayaan Waisak kini diperingati di banyak negara seperti Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Myanmar, Jepang, Korea Selatan, hingga Nepal.
Hari Waisak juga memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Buddha. Perayaan tersebut menjadi waktu untuk mendekatkan diri kepada ajaran Buddha sekaligus memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kemenag Kabupaten Mojokerto Butuh Tambahan Penghulu
Berikut beberapa makna penting Hari Waisak:
1. Mengingat Pentingnya Kebaikan
Waisak mengajarkan manusia untuk selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa membedakan suku, agama, atau status sosial.
2. Belajar Mengendalikan Diri
Umat Buddha diajarkan untuk mengurangi sifat marah, iri, serakah, dan kebencian agar hidup menjadi lebih tenang.
3. Menumbuhkan Rasa Kasih Sayang
Nilai cinta kasih atau welas asih menjadi inti ajaran Buddha. Karena itu, Waisak identik dengan semangat perdamaian dan kepedulian terhadap sesama.
4. Menjadi Momen Introspeksi
Perayaan Waisak juga menjadi waktu untuk merenungkan kesalahan dan memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
5. Menjaga Kerukunan dan Perdamaian
Pesan utama Waisak adalah hidup damai dan saling menghormati antar umat manusia.
Di Indonesia, perayaan Waisak biasanya berlangsung khidmat dan penuh makna. Ada beberapa tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun, terutama di kawasan Candi Borobudur.
1. Pengambilan Air Suci dan Api Dharma
Air suci biasanya diambil dari Umbul Jumprit, sedangkan Api Dharma diambil dari Mrapen. Keduanya menjadi simbol kesucian, penerangan, dan semangat kehidupan.
2. Kirab Waisak
Kirab dilakukan dengan berjalan bersama menuju Candi Borobudur sambil membawa simbol keagamaan dan doa-doa suci.
3. Meditasi dan Puja Bhakti
Meditasi massal menjadi kegiatan utama dalam perayaan Waisak. Umat Buddha berdoa dan bermeditasi untuk mendapatkan ketenangan batin.
Baca Juga: Zona Bebas PKL di Kota Mojokerto Masih Jadi Jujukan Pedagang
4. Pelepasan Lampion
Tradisi pelepasan lampion selalu menjadi momen yang paling menarik perhatian. Lampion melambangkan harapan, doa, dan cahaya kebijaksanaan yang menerangi kehidupan.
5. Kegiatan Sosial
Selain kegiatan keagamaan, banyak umat Buddha juga mengadakan donor darah, pembagian sembako, pengobatan gratis, dan bantuan sosial untuk masyarakat yang membutuhkan.
6. Tradisi Thudong
Menjelang Waisak, masyarakat biasanya juga menyaksikan tradisi Thudong yang dilakukan para bhikkhu atau biksu. Thudong adalah perjalanan spiritual dengan berjalan kaki jarak jauh sambil menjalani hidup sederhana dan disiplin.
Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk latihan kesabaran, pengendalian diri, dan ketekunan dalam menjalankan ajaran Buddha. Dalam beberapa tahun terakhir, perjalanan Thudong menuju Borobudur selalu menjadi perhatian.
Perayaan Waisak 2026 di Indonesia mengangkat tema tentang perdamaian dan pengamalan Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Tema tersebut mengajak umat Buddha untuk menjaga keharmonisan, toleransi, dan menciptakan kedamaian di tengah masyarakat.
Hari Waisak sebenarnya tidak hanya memberi pelajaran bagi umat Buddha saja, tetapi juga untuk semua orang. Ada banyak nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
-
Hidup sederhana dan tidak berlebihan
-
Menghormati sesama manusia
-
Menjaga sikap sabar dan tenang
-
Menolong orang lain dengan tulus
-
Menghindari permusuhan dan kebencian
-
Menjaga kedamaian dalam lingkungan sekitar
Hari Waisak 2026 bukan hanya menjadi hari besar keagamaan umat Buddha, tetapi juga menjadi pengingat penting tentang arti kebajikan, toleransi, dan cinta kasih dalam kehidupan.
LULUS
Editor : Imron Arlado