JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hari Waisak 2026 di Indonesia menjadi momentum penting untuk mempererat toleransi antarumat beragama. Perayaan ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan umat Buddha, tetapi juga sebagai ajang mempererat persaudaraan dan kerukunan di tengah keberagaman bangsa. Pemerintah bersama tokoh agama menekankan bahwa nilai welas asih, kebijaksanaan, dan cinta kasih yang terkandung dalam ajaran Buddha dapat menjadi fondasi perdamaian sosial.
Tema resmi Waisak 2570 BE/2026 adalah “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan” dengan subtema “Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia.” Tema ini dipilih untuk menegaskan bahwa ajaran Dharma tidak hanya relevan bagi umat Buddha, tetapi juga universal sebagai pedoman moral bagi seluruh umat manusia. Pesan cinta kasih diharapkan menjadi energi positif yang memperkuat harmoni dalam kehidupan berbangsa.
Baca Juga: Kemenag Kabupaten Mojokerto Butuh Tambahan Penghulu
Puncak perayaan Waisak akan berlangsung pada 31 Mei 2026 pukul 15.44.44 WIB di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Acara ini menjadi simbol spiritual sekaligus budaya yang mempertemukan ribuan umat Buddha dari berbagai daerah dan mancanegara. Borobudur sebagai situs warisan dunia UNESCO kembali menjadi pusat perhatian internasional, menegaskan Indonesia sebagai rumah bagi keragaman budaya dan agama.
Selain di Borobudur, perayaan Waisak juga digelar di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada 29 Mei–1 Juni 2026. Pemerintah DKI Jakarta bahkan meniadakan car free day demi kelancaran acara. Kehadiran Waisak di pusat kota Jakarta menunjukkan komitmen menjadikan ibu kota sebagai ruang inklusif yang merayakan keberagaman. Acara ini juga menjadi simbol bahwa toleransi dapat tumbuh di ruang publik modern.
Baca Juga: Zona Bebas PKL di Kota Mojokerto Masih Jadi Jujukan Pedagang
Rangkaian kegiatan Waisak meliputi bakti sosial, Indonesia Walk for Peace, pengambilan Api Dharma, hingga Detik-detik Waisak. Semua kegiatan tersebut dirancang untuk menekankan nilai kedamaian, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Dengan melibatkan masyarakat luas, Waisak menjadi perayaan yang tidak eksklusif, melainkan terbuka bagi siapa saja yang ingin merayakan nilai kemanusiaan.
Bhante Sri Paññavaro Mahāthera menekankan bahwa Waisak harus dimaknai lebih dari sekadar ritual. Menurutnya, Waisak adalah momentum untuk memperkuat welas asih, kebijaksanaan, dan hidup berdampingan secara damai. Pesan ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang terus digalakkan pemerintah, agar masyarakat mampu menghargai perbedaan sebagai kekayaan bangsa.
Baca Juga: Dini Hari, Kebakaran Ludeskan Seisi Rumah Warga Bangsal Mojokerto
Dialog lintas agama juga menjadi bagian penting dari perayaan Waisak 2026. Acara seperti Gema Waisak dan peringatan 50 tahun Sangha Theravada Indonesia diharapkan menjadi ruang pertemuan antar agama. Dengan adanya dialog ini, Waisak tidak hanya memperkuat identitas umat Buddha, tetapi juga memperkokoh citra Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi.
Momentum Waisak 2026 juga menjadi pengingat bahwa perdamaian dunia berawal dari cinta kasih antar individu. Nilai-nilai yang diangkat dalam perayaan ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat untuk menolak kekerasan, diskriminasi, dan intoleransi. Dengan demikian, Waisak menjadi bagian dari upaya global untuk menciptakan dunia yang lebih damai dan harmonis.
Kesimpulannya, Hari Waisak 2026 membawa pesan universal tentang toleransi, cinta kasih, dan perdamaian. Dengan dukungan pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat, perayaan ini diharapkan memperkuat harmoni sosial serta menegaskan Indonesia sebagai teladan kerukunan antar umat beragama di dunia.
FERDI
Editor : Imron Arlado