Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bukan Sekedar Seremonial 17 Mei: Ini Alasan Mengapa Buku Masih Menjadi Senjata Paling Ampuh

Imron Arlado • Minggu, 17 Mei 2026 | 18:06 WIB
Bukan Sekedar Seremonial 17 Mei: Ini Alasan Mengapa Buku Masih Menjadi Senjata Paling Ampuh.
Bukan Sekedar Seremonial 17 Mei: Ini Alasan Mengapa Buku Masih Menjadi Senjata Paling Ampuh.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di tengah derasnya arus informasi digital dan dominasi media sosial, keberadaan buku kerap dianggap mulai tergeser.

Namun setiap tanggal 17 Mei yang diperingati sebagai Hari Buku Nasional kembali mengingatkan masyarakat bahwa buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan, melainkan sumber pengetahuan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan manusia dan bangsa.

Buku telah lama menjadi “senjata” utama dalam membangun pola pikir, memperluas wawasan, hingga mengubah peradaban. Banyak tokoh besar dunia lahir dari kebiasaan membaca yang kuat.

Dari ruang kelas sederhana hingga perpustakaan megah, buku tetap menjadi jendela ilmu yang mampu membuka cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

Di era digital saat ini, informasi memang dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik.

Namun buku menawarkan sesuatu yang berbeda: pemahaman yang lebih mendalam, runtut, dan terstruktur.

Melalui buku, pembaca diajak berpikir kritis, menganalisis, serta memahami persoalan secara lebih luas dibanding sekadar membaca potongan informasi singkat di media sosial.

Selain itu, buku juga dinilai mampu meningkatkan kemampuan konsentrasi dan daya imajinasi.

Baca Juga: Luqui Deviawaty, Ketua HP3 Kabupaten Mojokerto, Perjuangkan Kualifikasi Akademik hingga Intensif Pendidik

Kebiasaan membaca membantu seseorang lebih fokus, memperkaya kosakata, serta meningkatkan kemampuan komunikasi.

Tidak heran jika budaya literasi sering dikaitkan dengan kemajuan suatu negara.

Peringatan Hari Buku Nasional pun bukan hanya seremoni tahunan. Momentum ini menjadi pengingat pentingnya membangun budaya membaca sejak dini, terutama di kalangan pelajar.

Banyak sekolah, komunitas, hingga perpustakaan daerah kini mulai mengadakan kegiatan literasi seperti donasi buku, bedah buku, hingga gerakan membaca bersama untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Meski teknologi terus berkembang, buku tetap memiliki tempat tersendiri.

Buku bukan hanya media belajar, tetapi juga warisan pemikiran yang dapat bertahan lintas generasi.

Dalam setiap lembarannya, tersimpan ide, sejarah, pengalaman, dan inspirasi yang mampu mengubah masa depan seseorang.

Karena itu, di tengah dunia yang semakin cepat dan instan, buku tetap menjadi senjata paling ampuh bukan untuk melawan manusia, melainkan untuk melawan kebodohan dan keterbatasan pengetahuan.

CINDY

 

Editor : Imron Arlado
#senjata ampuh #seremonial #arus informasi #dominasi media sosial #buku