JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Beberapa tahun lalu, banyak masyarakat Indonesia masih bisa bertahan saat kondisi ekonomi sulit dengan memakai tabungan pribadi.
Dana darurat yang sebelumnya disimpan perlahan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makan sehari-hari, bayar listrik, cicilan, sampai biaya sekolah anak.
Tetapi, sekarang situasinya perlahan mulai berubah. Setelah tabungan menipis bahkan habis, sebagian masyarakat akhirnya mulai bergantung pada utang untuk melanjutkan hidup.
Fenomena tersebut kini ramai dibicarakan karena dianggap menjadi tanda bahwa tekanan ekonomi di masyarakat semakin berat. Banyak orang mengaku penghasilan yang mereka terima saat ini terasa cepat habis, sementara kebutuhan pokok terus naik.
Akibatnya, sebagian orang memilih untuk pinjaman online (pinjol), paylater, kartu kredit, hingga cicilan digital mulai menjadi “penolong sementara” bagi sebagian orang.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan penggunaan pinjaman digital di Indonesia memang terus meningkat. Hingga awal 2026, total utang pinjaman online tercatat sudah menembus lebih dari Rp100 triliun.
Angka tersebut naik cukup besar dibanding tahun sebelumnya. Sementara transaksi pay later juga mengalami lonjakan tajam karena semakin banyak masyarakat menggunakan sistem beli sekarang bayar nanti untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Kondisi tersebut membuat para ekonom mulai khawatir. Karena sebagian besar utang tersebut ternyata bukan digunakan untuk modal usaha atau kebutuhan produktif, melainkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagian orang memakai pinjaman untuk membeli makanan, membayar tagihan bulanan, biaya transportasi, sampai menutup cicilan lain yang sudah jatuh tempo.
Situasi seperti itu sering disebut sebagai “gali lubang tutup lubang”, yaitu ketika seseorang harus kembali berhutang hanya untuk membayar utang sebelumnya.
Fenomena tersebut telah menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat untuk menabung semakin menurun. Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia, sebagian besar pendapatan masyarakat saat ini langsung habis untuk konsumsi harian.
Mulai dari harga bahan makanan, biaya pendidikan, transportasi, kontrakan rumah, tarif listrik, hingga kebutuhan digital seperti internet ikut membuat pengeluaran masyarakat semakin besar.
Kenaikan pendapatan juga tidak selalu sebanding dengan kenaikan kebutuhan hidup tersebut. Banyak pekerja merasa gaji mereka “jalan di tempat”, sementara pengeluaran terus bertambah setiap bulan.
Di media sosial, curhatan soal kondisi keuangan juga semakin sering muncul. Tidak sedikit orang yang mengaku dulunya masih punya tabungan aman, tetapi sekarang mulai kesulitan memenuhi kebutuhan tanpa bantuan pinjaman.
Bahkan ada yang memiliki lebih dari satu layanan pay later aktif sekaligus. Mulai dari aplikasi belanja online, pinjaman digital, sampai cicilan instan dari berbagai platform.
Baca Juga: English on The Radar: Belajar Bahasa Inggris dari Lagu BTS “2.0”
Saat ini masyarakat bisa dengan mudah mengajukan pinjaman hanya lewat ponsel dalam hitungan menit tanpa proses rumit seperti di bank. Jadi,hal itu yang membuat banyak orang tergoda menggunakan pinjaman secara berlebihan karena prosesnya terasa mudah dan cepat cair.
Gaya hidup juga ikut mempengaruhi meningkatnya penggunaan utang. Tren belanja online, promo cicilan ringan, diskon besar, dan tekanan gaya hidup di media sosial membuat sebagian orang tetap ingin mengikuti tren meski kondisi keuangan sedang tidak baik.
Para pengamat ekonomi menilai fenomena “makan utang” ini dapat menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat mulai melemah. Walaupun konsumsi masih berjalan, kenyataannya sebagian pengeluaran berasal dari dana pinjaman, bukan dari uang yang benar-benar dimiliki.
Masalah lainnya yang mulai muncul yaitu stres finansial. Banyak masyarakat mengaku mengalami tekanan mental akibat tagihan yang terus bertambah setiap bulan. Karena bunga pinjaman, denda keterlambatan, hingga penagihan yang agresif membuat sebagian orang semakin sulit keluar dari masalah hutang.
Jadi, banyak ahli keuangan yang mengingatkan pentingnya mengatur pengeluaran dan menggunakan utang secara bijak. Pinjaman sebaiknya dipakai untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak atau produktif, tidak hanya demi memenuhi keinginan sesaat.
Masyarakat juga sangat disarankan mulai membangun kembali dana darurat sedikit demi sedikit agar tidak terus bergantung pada utang ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
Fenomena tersebut telah menjadi gambaran nyata bahwa tekanan ekonomi saat ini sedang dirasakan banyak orang. Dari “makan tabungan”, kini sebagian masyarakat mulai masuk ke fase “makan utang” demi bertahan hidup di tengah biaya hidup yang terus meningkat.
LULUS
Editor : Imron Arlado