Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Waspada Hantavirus dari Tikus Liar: Ancaman Penyakit Mematikan yang Kembali Jadi Sorotan Dunia

Imron Arlado • Minggu, 10 Mei 2026 | 11:41 WIB
Pakar kesehatan mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap lingkungan yang kotor dan berpotensi menjadi sarang tikus.
Pakar kesehatan mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap lingkungan yang kotor dan berpotensi menjadi sarang tikus.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Belakangan ini, hantavirus kembali resmi dibahas setelah muncul laporan kasus di beberapa negara dan meningkatnya kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit yang berasal di tikus liar.

Meski bukan virus baru, hantavirus tetap dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru dan ginjal, bahkan berujung kematian jika terlambat ditangani.

Menurut data dari World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Penularan biasanya terjadi Ketika manusia menghirup udara yang telah terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengandung virus.

Virus ini menjadi perhatian karena gejalanya sering menyerupai flu biasa pada tahap awal, sehingga banyak orang terlambat menyadari infeksinya. Penderita umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga sesak napas.

Baca Juga: Terbentuknya Kabupaten Mojokerto, Dirikan Pendapa, Alun-Alun, hingga Masjid Agung

Dalam kasus yang berat, hantavirus dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu gangguan paru-paru serius yang bisa menyebabkan gagal napas.

WHO menyebutkan bahwa tingkat kematian akibat hantavirus di beberapa wilayah dapat mencapai 30 hingga 50 persen, terutama jika pasien tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Meski begitu, penularan virus ini tidak semudah COVID-19 karena sebagian besar kasus berasal dari kontak manusia dengan tikus liar, bukan dari manusia ke manusia.

Pakar kesehatan mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap lingkungan yang kotor dan berpotensi menjadi sarang tikus. Gudang, loteng rumah, saluran air, hingga tempat penyimpanan makanan menjadi lokasi yang rawan terkontaminasi. Risiko meningkat saat membersihkan area tertutup yang lama tidak digunakan karena partikel virus bisa beterbangan di udara.

Untuk mencegah penularan hantavirus, masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan rumah, menutup akses masuk tikus, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus.

CDC juga menyarankan agar kotoran tikus tidak langsung disapu atau divakum karena dapat menyebarkan partikel virus ke udara. Area tersebut sebaiknya disemprot cairan desinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan.

Di Indonesia sendiri, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mulai meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sistem skrining untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya kasus hantavirus. Masyarakat diminta tetap tenang namun tidak mengabaikan kebersihan lingkungan dan bahaya tikus liar di sekitar tempat tinggal.

Para ahli menegaskan bahwa langkah pencegahan paling efektif saat ini adalah mengurangi kontak dengan tikus dan menjaga sanitasi lingkungan. Kesadaran masyarakat menjadi kunci agar virus ini tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih besar di masa mendatang.

NENSI

 

Editor : Imron Arlado
#hantavirus #cdc #virus #indonesia #who