JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Sungai Brantas, yang mengalir panjang membelah Jawa Timur, bukan sekadar jalur air biasa.
Bagi masyarakat Mojokerto, sungai ini adalah saksi bisu kejayaan Majapahit sekaligus sumber cerita mistis yang diwariskan turun-temurun. Aliran Brantas membawa kehidupan, perdagangan, dan juga kisah-kisah legenda yang hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat.
Sungai Brantas menjadi nadi utama Kerajaan Majapahit. Airnya mengalir ke sawah-sawah, memberi kesuburan pada tanah, dan menjadikan Mojokerto sebagai pusat agraris yang kuat.
Tanpa Brantas, Majapahit mungkin tidak akan mampu menopang kebutuhan pangan rakyatnya, apalagi memperluas pengaruh hingga ke luar Jawa.
Jalur air ini juga berfungsi sebagai sarana transportasi penting. Kapal-kapal kecil dan perahu dagang melintasi Brantas, membawa hasil bumi, rempah-rempah, serta barang dagangan menuju pelabuhan besar di pesisir utara. Sungai Brantas dengan demikian menjadi urat nadi perdagangan yang menghubungkan Majapahit dengan dunia luar.
Namun, Sungai Brantas bukan hanya soal ekonomi. Dalam pandangan spiritual masyarakat Jawa kuno, sungai adalah penghubung antara dunia manusia dengan dunia gaib. Oleh karena itu, banyak ritual dilakukan di tepi Brantas, mulai dari larung sesaji hingga doa keselamatan, sebagai bentuk penghormatan kepada kekuatan alam yang dipercaya bersemayam di dalamnya.
Baca Juga: Dampak Kecanduan Gadget Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini dan Remaja
Legenda yang berkembang menyebutkan bahwa Sungai Brantas dijaga oleh makhluk gaib berupa naga air. Sosok ini dipercaya menjaga keseimbangan sungai, memastikan aliran tetap memberi kehidupan, sekaligus menakutkan bagi mereka yang tidak menghormati alam. Cerita ini diwariskan dari mulut ke mulut, menambah aura mistis Brantas.
Ada pula kisah tentang arwah prajurit Majapahit yang gugur dalam peperangan. Konon, roh mereka bersemayam di sepanjang aliran Brantas, menjaga sungai agar tetap memberi manfaat bagi masyarakat Mojokerto. Kisah ini memperkuat keyakinan bahwa Brantas adalah sungai yang penuh dengan energi spiritual.
Tradisi lisan juga menyebutkan tentang seorang putri Majapahit yang melarikan diri melalui Brantas. Dalam pelariannya, ia dipercaya berubah menjadi makhluk gaib yang sesekali menampakkan diri di tepian sungai. Cerita ini menambah lapisan mitos yang membuat Brantas semakin dihormati.
Sungai Brantas menjadi saksi bisu runtuhnya Majapahit. Ketika kerajaan melemah, jalur perdagangan di sungai ini mulai sepi. Namun, aliran Brantas tetap mengingatkan masyarakat akan masa kejayaan yang pernah ada, seolah membawa pesan bahwa kejayaan bisa hilang, tetapi warisan sejarah tetap mengalir.
Hingga kini, Brantas tetap menjadi sumber kehidupan. Pertanian Mojokerto masih bergantung pada irigasi dari sungai ini. Airnya mengalir ke sawah-sawah, menghasilkan padi, jagung, dan berbagai hasil bumi yang menjadi penopang ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah berupaya menjaga kelestarian Brantas. Program revitalisasi dilakukan untuk mengurangi pencemaran, sekaligus menjadikan sungai ini sebagai destinasi wisata sejarah. Dengan begitu, Brantas tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga sumber pengetahuan dan kebanggaan.
Baca Juga: Galian C di Mojokerto Keruk Bantaran Sungai dan Belah Bukit Gunung Anjasmoro
Tradisi larung sesaji masih dilakukan di beberapa titik sepanjang Brantas. Upacara ini menjadi simbol penghormatan kepada sungai dan roh penjaganya, sekaligus bentuk syukur atas kehidupan yang diberikan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana legenda dan budaya masih hidup berdampingan dengan modernitas.
Sungai Brantas bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga masa depan. Dengan menjaga kebersihan dan kelestariannya, masyarakat Mojokerto berharap dapat melestarikan warisan Majapahit sekaligus memastikan keberlanjutan hidup generasi mendatang.
Legenda Sungai Brantas terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Mojokerto. Ia bukan sekadar aliran air, melainkan simbol kejayaan, spiritualitas, dan harapan yang mengalir dari masa Majapahit hingga kini. Brantas adalah sungai yang menyatukan sejarah, mitos, dan kehidupan nyata dalam satu aliran panjang yang tak pernah berhenti.
FERDI
Editor : Imron Arlado