JAWA POS RADAR MOJOKERTO– Hasil panen petani cabai rawit di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, merosot akibat serangan hama antraknosa (patek) dan busuk batang. Kualitas cabai yang menurun turut memengaruhi permintaan yang berakibat rendahnya harga di pasaran.
Dampak penyakit tanaman itu salah satunya dirasakan Joko Wijanarko. Petani di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, itu mengatakan, serangan antraknosa dan busuk batang berdampak signifikan. Penyakit jamur ini menyebabkan hasil panen melorot 40-50 persen. ”Biasanya yang punya lahan luas sekali panen bisa dapat 2 kuintal, sekarang cuma 90-120 kilogram (kg),” tuturnya, kemarin (19/4).
Baca Juga: Alvi Terdakwa Mutilasi Tinggal Selangkah Lagi Divonis PN Mojokerto
Pria yang juga Kepala Dusun Geneng, Desa Sumberwuluh, itu mejelaskan, jamur antraknosa atau yang dikenal dengan nama patek menyebabkan buah busuk. Adapun serangan busuk batang lebih parah lagi. Tanaman cabai bisa layu dan mati sebelum waktunya. ”Di wilayah Dawarblandong, akibat antraknosa dan busuk batang, akhirnya panen petani merosot,” imbuh dia.
Petani cabai di Dawarblandong memulai musim panen sekitar Februari lalu. Hingga kini, rata-rata petani sudah belasan kali melakukan petik atau pemanenan. Seperti Joko, yang kemarin (19/4) sudah masuk masa petik ke-11. Kendati hasil panen turun, dirinya memperkirakan tetap bisa meraih untung. ”Meskipun tidak banyak, setidaknya nggak rugi,” ucapnya.
Baca Juga: Bersimpuh dan Meminta Maaf, Ibu Muda yang Maki-Maki dan Pukul Anak di Jalan Empunala Mengaku Khilaf
Joko mengungkapkan, harga cabai di tingkat petani saat ini turun tinggal Rp 25-Rp 30 ribu per kg. Harga ini anjlok jauh dibanding awal tahun yang menyentuh Rp 90 ribu per kg. Menurutnya, serangan hama turut memengaruhi harga jual. Permintaan pasar menjadi lesu akibat maraknya cabai yang terkena penyakit. ”Tengkulak tidak mau risiko, jadi efeknya permintaan pasar juga kurang greget gara-gara patek,” tandasnya.
Di samping itu, saat ini hampir seluruh petani cabai di wilayah Jawa Timur juga memasuki masa panen raya. Melimpahnya pasokan kian menekan harga di tingkat petani dan pasar. ”Selain penyakit, wilayah lain sekitar Mojokerto sudah banyak yang panen raya,” katanya. Joko mengaku masih bisa lima kali lagi petik pada sisa masa panen kali ini. Setelah itu, lahan nantinya akan diganti dengan tanaman jagung.
Baca Juga: Legenda Rasa yang Tak Lekang Waktu: Menguak Rahasia Lezatnya Sate Kelapa Khas Mojokerto
Sementara itu, Ardian Firmansyah, penjual cabai di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, mengatakan, harga cabai rawit eceran berada di kisaran Rp 60 ribu per kg. ”Harganya stagnan segitu,” ujarnya, kemarin (19/4). Berdasarkan pantauan di laman Siskaperbapo Jatim per kemarin, harga cabai rawit stabil Rp 57 ribu per kg. (adi/ris)
Editor : Imron Arlado