JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Memasuki masa peralihan musim atau pancaroba 2026, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut periode pancaroba tahun ini diperkirakan berlangsung sejak Maret hingga Mei, seiring berjalan dari musim hujan menuju musim kemarau.
Dalam fase ini, kondisi atmosfer cenderung tidak stabil sehingga memicu perubahan cuaca yang cepat dan sulit diprediksi. Cuaca cerah di pagi hari dapat berubah menjadi hujan lebat pada siang atau sore hari.
Selain itu, perbedaan suhu yang cukup signifikan antara siang dan malam turut menjadi ciri khas yang dirasakan masyarakat selama pancaroba berlangsung.
Baca Juga: KPK Endus Satu IP Tender Mencurigakan hingga Data Bantuan RTLH Ganda di Pemkot Mojokerto
BMKG menjelaskan bahwa potensi hujan masih akan terjadi di sejumlah daerah, bahkan dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang dalam durasi singkat.
Fenomena ini dipicu oleh peningkatan suhu udara serta perubahan pola angin yang mendorong pembentukan awan hujan secara tiba-tiba.
Di beberapa wilayah, termasuk Jawa Timur, cuaca ekstrem juga masih berpeluang terjadi selama masa peralihan ini. Hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang, hingga potensi hujan es menjadi ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat.
Baca Juga: Dua Korban Dugaan Arisan Online Bodong di Mojokerto Segera Lapor Polisi
Kondisi tersebut dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi prakiraan cuaca terkini melalui kanal resmi. Selain itu, masyarakat juga diharapkan lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hingga sore hari saat potensi cuaca ekstrem meningkat.
"BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," tulis keterangan BMKG.
Baca Juga: Dua Situs di Mojokerto Diajukan Jadi Cagar Budaya Nasional
BMKG juga menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dalam menghadapi dampak pancaroba. Upaya mitigasi dan edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mengurangi risiko kerugian akibat bencana yang mungkin terjadi.
Seiring berjalannya waktu, musim kemarau diperkirakan akan mulai terjadi secara bertahap pada April hingga Juni 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia. Meski demikian, dinamika cuaca selama pancaroba tetap perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan kejadian ekstrem yang datang secara tiba-tiba. SEPTIANA
Editor : Imron Arlado