JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Sebagian orang pernah mengalami situasi sama yaitu yang awalnya hanya ingin membuka TikTok sebentar, tetapi tanpa sadar waktu berlalu cukup lama.
Bahkan ketika sudah berkata pada diri sendiri untuk berhenti, tangan terasa ingin terus. Hal tersebut sebenarnya bukan hanya soal kurang disiplin atau tidak punya kemauan kuat.
Ternyata ada penjelasan ilmiah dari sisi cara kerja otak, kebiasaan, dan desain aplikasi yang memang dibuat agar pengguna betah berlama-lama.
Salah satu penyebab utama yaitu karena otak kita menghasilkan zat kimia bernama dopamin saat menonton video yang menarik, lucu, atau menghibur.
Dopamin membuat kita merasa senang dan puas, sehingga otak ingin mengulang pengalaman tersebut. Ketika hal tersebut terjadi berulang kali, otak menjadi terbiasa mencari kesenangan cepat dari video pendek.
Jadi, aktivitas lain seperti belajar, bekerja, atau membaca bisa terasa kurang menarik dibandingkan menonton TikTok. Inilah alasan mengapa seseorang bisa merasa ingin terus membuka aplikasi meskipun sebenarnya sudah berniat berhenti.
Selain itu, TikTok menggunakan sistem algoritma yang sangat pintar dalam menampilkan konten. Aplikasi tersebut mempelajari kebiasaan pengguna, seperti video apa yang sering ditonton sampai selesai, apa yang disukai, dan topik apa yang sering dicari.
Semakin sering seseorang menggunakan TikTok, semakin tepat pula video yang muncul di beranda. Hal tersebut membuat pengguna merasa setiap video yang muncul selalu menarik dan sesuai dengan minatnya.
Faktor lain yang membuat TikTok terasa “menarik terus” adalah adanya sistem hadiah yang tidak bisa ditebak. Kadang kita menemukan video yang sangat lucu atau bermanfaat, tetapi kadang juga biasa saja.
Justru karena tidak bisa diprediksi, otak menjadi semakin penasaran dan ingin terus mencoba melihat video berikutnya. Dalam ilmu psikologi, kondisi seperti ini disebut sebagai hadiah yang tidak menentu, dan terbukti bisa membuat seseorang lebih sulit berhenti melakukan suatu kebiasaan.
Baca Juga: PKL Kembali Menjamur di Jalan Residen Pamuji Kota Mojokerto
Desain aplikasi TikTok juga berperan besar dalam membuat pengguna betah berlama-lama. TikTok memiliki fitur scroll tanpa batas dan video yang langsung berjalan otomatis.
Tidak ada tanda atau batas yang jelas kapan harus berhenti. Berbeda dengan menonton film atau membaca buku yang memiliki akhir cerita, TikTok selalu menyediakan video baru secara terus-menerus.
Karena tidak ada titik berhenti alami, seseorang dapat terus menonton tanpa sadar bahwa waktu sudah berlalu sangat lama.
Durasi video yang pendek juga menjadi faktor penting. Video yang singkat membuat otak mendapatkan banyak rangsangan dalam waktu singkat.
Setiap beberapa detik, muncul video baru dengan cerita atau hiburan yang berbeda. Hal tersebut membuat otak terbiasa dengan perubahan cepat dan terus mencari sesuatu yang baru.
Selain faktor teknologi dan otak, kondisi emosional juga memengaruhi kebiasaan ini. Banyak orang membuka TikTok saat merasa bosan, lelah, stres, atau ingin mengalihkan pikiran dari masalah.
Menonton video dapat memberikan rasa lega sementara. Tetapi, jika kebiasaan ini sering dilakukan, otak akan menganggap TikTok sebagai cara utama untuk mengatasi rasa tidak nyaman.
Akibatnya, setiap kali merasa bosan atau tertekan, seseorang akan langsung membuka aplikasi tanpa berpikir panjang.
Ada juga faktor psikologis yang disebut rasa takut ketinggalan atau FOMO (Fear of Missing Out). Seseorang mungkin merasa khawatir tidak mengetahui tren terbaru, berita viral, atau informasi yang sedang ramai dibicarakan.
Perasaan tersebut membuat orang ingin terus memantau TikTok agar tidak merasa tertinggal dari orang lain. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat membuat waktu penggunaan media sosial semakin lama.
LULUS
Editor : Imron Arlado