JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pernah merasa sulit melupakan kejadian yang tidak menyenangkan? Entah itu kata-kata yang menyakitkan, kegagalan, atau pengalaman memalukan, hal-hal negatif seringkali justru lebih lama bertahan di ingatan dibandingkan momen bahagia. Lalu, apa sebenarnya yang membuat kita lebih mudah mengingat hal buruk?
Otak Memiliki “Bias Negatif”
Dalam psikologi, terdapat konsep yang dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan otak untuk lebih fokus pada pengalaman negatif dibandingkan yang positif. Bias ini sudah ada sejak zaman dahulu, ketika manusia harus waspada terhadap ancaman untuk bertahan hidup.
Mengingat hal buruk membantu manusia belajar dari kesalahan dan menghindari bahaya di masa depan. Misalnya, jika seseorang pernah mengalami kejadian berbahaya, otak akan “menyimpan” pengalaman tersebut sebagai peringatan.
Hal-hal negatif biasanya memicu emosi yang kuat, seperti takut, marah, atau sedih. Emosi yang intens ini membuat otak lebih mudah merekam dan menyimpan kejadian tersebut.
Bagian otak seperti amigdala berperan penting dalam memproses emosi. Ketika emosi yang dirasakan sangat kuat, amigdala akan memberi sinyal agar ingatan tersebut disimpan lebih dalam dan lebih lama.
Sebaliknya, pengalaman positif yang terasa biasa saja cenderung tidak meninggalkan jejak yang sekuat itu. Sulit melupakan hal buruk sebenarnya merupakan bentuk perlindungan diri. Otak berusaha menjaga kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Namun, di era modern, mekanisme ini kadang justru membuat kita terjebak dalam pikiran negatif, seperti overthinking atau terus mengingat kejadian yang sudah berlalu.
Cara kita memandang suatu kejadian juga berpengaruh besar. Jika kita terus-menerus memikirkan hal buruk, ingatan tersebut akan semakin kuat. Ini disebut sebagai rumination, yaitu kebiasaan memutar ulang kejadian negatif di dalam pikiran.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Meskipun sulit, bukan berarti kita tidak bisa mengelola ingatan negatif. Ada beberapa cara yang bisa membantu:
-
Mengalihkan fokus ke aktivitas positif
-
Berlatih menerima kejadian yang sudah terjadi
-
Mengurangi kebiasaan overthinking
-
Mencoba melihat sisi pelajaran dari pengalaman tersebut
Dengan melatih pola pikir yang lebih seimbang, kita bisa mengurangi dominasi ingatan negatif dalam pikiran. Sulitnya melupakan hal buruk bukan berarti ada yang salah dengan diri kita. Justru, itu adalah bagian alami dari cara kerja otak untuk melindungi diri.
Namun, penting untuk tetap menjaga keseimbangan. Mengingat pelajaran dari masa lalu memang baik, tetapi tidak seharusnya membuat kita terjebak dalam bayang-bayang yang menghambat langkah ke depan.
TISA
Editor : Imron Arlado