JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Fenomena overthinking atau berpikir berlebihan semakin banyak dialami masyarakat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.
Kondisi ini kerap dianggap sebagai kebiasaan sepele, padahal dalam perspektif psikologi, overthinking memiliki dampak nyata terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang.
Dalam kajian Psikologi, overthinking diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk memikirkan sesuatu secara berulang-ulang, seringkali disertai kekhawatiran berlebihan terhadap hal yang belum tentu terjadi.
Pola pikir ini dapat memicu berbagai gangguan emosional jika tidak dikelola dengan baik.
Para ahli menyebutkan bahwa overthinking erat kaitannya dengan Gangguan Kecemasan.
Ketika seseorang terus-menerus memikirkan kemungkinan terburuk, tubuh akan merespons dengan meningkatkan stres, detak jantung, hingga sulit berkonsentrasi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Dampak overthinking tidak hanya dirasakan secara psikologis, tetapi juga mempengaruhi aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Terlapor Segera Ajukan Gugatan Perdata, Kasus Dugaan Arisan Online Bodong di Polres Mojokerto Kota
Banyak individu mengalami kesulitan mengambil keputusan karena terlalu banyak mempertimbangkan berbagai kemungkinan.
Akibatnya, produktivitas menurun dan pekerjaan menjadi terhambat.
Selain itu, overthinking juga dapat mengganggu kualitas tidur. Pikiran yang terus aktif, terutama di malam hari, membuat seseorang sulit beristirahat dengan tenang.
Kurang tidur ini kemudian berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh serta konsentrasi di keesokan harinya.
Dalam kehidupan sosial, overthinking sering kali menimbulkan rasa tidak percaya diri.
Seseorang cenderung memikirkan penilaian orang lain secara berlebihan, sehingga menjadi ragu dalam berinteraksi.
Hal ini dapat menghambat hubungan sosial dan menurunkan kualitas komunikasi.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa overthinking dapat dikelola.
Beberapa langkah sederhana seperti membatasi waktu untuk memikirkan suatu masalah, melakukan aktivitas relaksasi, hingga berbicara dengan orang terpercaya dapat membantu mengurangi beban pikiran.
Jika kondisi semakin berat, berkonsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah yang dianjurkan.
Baca Juga: Angkutan Lebaran 2026, Penumpang Kereta di Mojokerto Naik Lima Ribu Orang
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental menjadi kunci utama dalam menghadapi fenomena ini.
Overthinking bukan sekadar kebiasaan biasa, melainkan sinyal bahwa seseorang membutuhkan keseimbangan dalam mengelola pikiran dan emosi.
Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu mengenali tanda-tanda overthinking sejak dini dan mengambil langkah tepat untuk menjaga kualitas hidup yang lebih sehat dan seimbang.
CINDY
Editor : Imron Arlado