JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara seseorang menampilkan dirinya di ruang publik. Kini, setiap individu memiliki kendali penuh atas bagaimana ia ingin dilihat, dikenal, dan dinilai oleh orang lain.
Di tengah kemudahan tersebut, muncul fenomena tarik-menarik antara menjadi diri sendiri atau membangun citra tertentu. Banyak orang secara sadar memilih menampilkan versi terbaik dari dirinya, mulai dari penampilan, gaya hidup, hingga opini yang dibagikan ke publik.
Hal ini tidak sepenuhnya salah. Menampilkan sisi positif dapat menjadi bentuk motivasi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Media sosial juga menjadi wadah untuk mengekspresikan kreativitas, membangun personal branding, dan membuka peluang baru.
Namun, batas antara autentisitas dan pencitraan sering kali menjadi kabur. Tidak sedikit individu yang mulai menyesuaikan diri dengan ekspektasi publik demi mendapatkan pengakuan. Validasi dalam bentuk “like” dan komentar pun perlahan menjadi tolok ukur nilai diri.
Baca Juga: JKN Bantu Ringankan Beban Biaya Cuci Darah, Andy Rasakan Manfaat Nyata Layanan BPJS Kesehatan
Kondisi ini dapat memunculkan tekanan sosial yang tidak terlihat. Seseorang merasa harus selalu tampil sempurna, meskipun kenyataannya tidak demikian. Dalam jangka panjang, hal ini berisiko menimbulkan kelelahan emosional dan menurunnya kepercayaan diri.
Di sisi lain, menjadi autentik di ruang publik juga memiliki tantangan tersendiri. Kejujuran terkadang dianggap berisiko, terutama ketika tidak sesuai dengan arus mayoritas. Inilah yang membuat banyak orang memilih “jalan aman” dengan membangun citra yang lebih dapat diterima.
Para pengamat komunikasi menilai bahwa keseimbangan menjadi kunci utama. Autentisitas tidak harus berarti membuka seluruh aspek kehidupan, tetapi tetap menjaga kejujuran dalam apa yang ditampilkan. Sementara itu, pencitraan sebaiknya tidak sampai menghilangkan identitas asli seseorang.
Dengan kesadaran tersebut, ruang publik dapat menjadi tempat yang lebih sehat untuk berinteraksi. Pada akhirnya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa sempurna citra yang ditampilkan, melainkan oleh konsistensi antara apa yang terlihat dan siapa dirinya yang sebenarnya.
jati
Editor : Imron Arlado