JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Jam tangan sering kali kita anggap sebagai benda sederhana. Ia melingkar di pergelangan, menunjukkan angka demi angka, seolah hanya berfungsi untuk memberi tahu kapan harus berangkat, kapan harus berhenti, dan kapan hari berganti. Namun, di balik gerak jarum yang konstan itu, ada sesuatu yang jauh lebih dalam yaitu cara kita memandang waktu, dan pada akhirnya, cara kita menjalani hidup.
Kita hidup dalam dunia yang diatur oleh waktu. Pagi dimulai dengan alarm, siang dipenuhi target, dan malam sering kali menjadi sisa dari energi yang telah habis. Jam tangan menjadi pengingat yang tak pernah lelah, bahwa setiap detik terus berjalan, entah kita siap atau tidak. Tanpa disadari, kita mulai melihat waktu sebagai sesuatu yang harus dikejar, bukan sesuatu yang bisa dirasakan.
Di sinilah letak perbedaannya waktu yang terlihat dan waktu yang dialami. Jam tangan menunjukkan waktu yang objektif, sama bagi semua orang. Tetapi waktu di pikiran kita bersifat subjektif. Lima menit bisa terasa sangat lama saat menunggu, dan sebaliknya, berjam-jam bisa terasa singkat saat kita tenggelam dalam sesuatu yang kita cintai. Artinya, yang membentuk pengalaman hidup kita bukan hanya waktu itu sendiri, tetapi kesadaran kita terhadapnya.
Sering kali, kita terlalu sibuk memperhatikan jam hingga lupa memperhatikan diri sendiri. Kita mengukur produktivitas dari seberapa banyak yang bisa dilakukan dalam sehari, bukan dari seberapa dalam kita benar-benar hadir dalam setiap momen. Jam tangan terus bergerak, tetapi pikiran kita melompat-lompat, terjebak antara masa lalu dan masa depan. Akibatnya, kita kehilangan satu hal yang paling nyata saat ini.
Baca Juga: JPU Mojokerto Tuntut Alvi Terdakwa Mutilasi Hukuman Seumur Hidup
Padahal, kesadaran terhadap waktu bukan tentang mengendalikannya, melainkan tentang memahami bagaimana kita hadir di dalamnya. Ketika kita mulai memperhatikan napas, percakapan, atau bahkan keheningan, waktu terasa berbeda. Ia tidak lagi menjadi tekanan, melainkan ruang. Ruang untuk merasakan, memahami, dan benar-benar hidup.
Jam tangan, dalam hal ini, bisa menjadi simbol yang menarik. Ia terus berdetak tanpa emosi, tanpa beban, tanpa kecemasan. Ia tidak terburu-buru, tetapi juga tidak pernah berhenti. Mungkin ada pelajaran sederhana bahwa hidup tidak selalu tentang berlari lebih cepat, melainkan tentang bergerak dengan sadar.
Tentu saja, kita tidak bisa lepas sepenuhnya dari struktur waktu. Kehidupan modern menuntut kita untuk tetap teratur dan terjadwal. Namun, ada perbedaan antara hidup yang diatur oleh waktu dan hidup yang sepenuhnya dikendalikan olehnya. Yang pertama memberi arah, yang kedua bisa menghilangkan makna.
Pada akhirnya, jam tangan hanya berada di pergelangan kita. Tetapi waktu yang sesungguhnya hidup di dalam pikiran dan cara kita memaknainya. Kita mungkin tidak bisa menghentikan detik yang berjalan, tetapi kita selalu punya pilihan tentang bagaimana mengisi setiap detik itu.
TISA
Editor : Imron Arlado