JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Perkembangan industri hiburan televisi dan digital menghadirkan persaingan menarik antara drama Korea (drakor) dan sinetron lokal Indonesia.
Keduanya memiliki basis penggemar yang besar, namun kerap dibandingkan dari segi kualitas produksi hingga kekuatan cerita.
Popularitas drakor dalam beberapa tahun terakhir meningkat pesat di Indonesia. Judul-judul seperti Crash Landing on You hingga berbagai serial terbaru di platform streaming berhasil menarik perhatian penonton lintas usia.
Di sisi lain, sinetron lokal seperti Ikatan Cinta tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, terutama melalui tayangan televisi nasional.
Perbedaan Kualitas Produksi
Salah satu perbedaan mencolok terletak pada kualitas produksi. Drakor dikenal memiliki perencanaan matang dengan jumlah episode yang terbatas, biasanya berkisar 12 hingga 20 episode. Hal ini membuat alur cerita lebih terstruktur dan tidak berlarut-larut.
Selain itu, drakor umumnya didukung oleh sinematografi berkualitas tinggi, pemilihan lokasi yang estetis, serta penggunaan teknologi produksi modern. Setiap adegan dirancang dengan detail untuk menghadirkan pengalaman visual yang kuat.
Sementara itu, sinetron lokal seringkali memiliki jumlah episode yang panjang, bahkan bisa mencapai ratusan episode.
Baca Juga: Pemkab Mojokerto Tetapkan Sembilan Cagar Budaya Tingkat Kabupaten
Hal ini membuat cerita cenderung berkembang mengikuti respons pasar, sehingga terkadang alur menjadi berulang atau kurang konsisten.
Meski begitu, kualitas sinetron Indonesia terus mengalami peningkatan, terutama dalam hal visual dan penyutradaraan.
Daya Tarik Cerita dan Karakter
Dari sisi cerita, drakor dikenal dengan plot yang kuat dan beragam genre, mulai dari romansa, thriller, hingga fantasi.
Pengembangan karakter yang mendalam menjadi salah satu kekuatan utama, sehingga penonton dapat merasa terhubung secara emosional dengan tokoh-tokohnya.
Sebaliknya, sinetron lokal lebih banyak mengangkat tema kehidupan sehari-hari yang dekat dengan realitas masyarakat Indonesia, seperti konflik keluarga, percintaan, dan perjuangan hidup.
Kedekatan budaya ini menjadi nilai plus yang membuat sinetron tetap relevan bagi penonton domestik.
Namun, tidak sedikit kritik yang menyebut sinetron sering mengandalkan konflik yang berlebihan atau dramatisasi yang kurang realistis.
Meski demikian, pendekatan tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian penonton yang menyukai alur cerita yang emosional.
Pengaruh Platform Digital
Kemunculan platform streaming turut mengubah pola konsumsi masyarakat. Drakor semakin mudah diakses dengan subtitle berbagai bahasa, sehingga menjangkau audiens global.
Hal ini menjadi salah satu faktor utama meningkatnya popularitas drakor di Indonesia.
Di sisi lain, sinetron lokal mulai beradaptasi dengan menghadirkan serial web dan memperbaiki kualitas cerita agar mampu bersaing di ranah digital.
Beberapa rumah produksi bahkan mulai mengadopsi format episode terbatas ala drakor.
Preferensi Penonton yang Beragam
Pengamat media menilai bahwa perbandingan antara drakor dan sinetron tidak selalu soal mana yang lebih baik, melainkan soal selera penonton.
Drakor unggul dalam kualitas produksi dan konsistensi cerita, sementara sinetron lokal memiliki kekuatan pada kedekatan budaya dan kemudahan akses melalui televisi.
Ke depan, industri sinetron Indonesia diharapkan dapat terus berinovasi dengan menggabungkan kualitas produksi yang lebih baik dan cerita yang kuat.
Dengan demikian, sinetron lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga bersaing di pasar global.
Baca Juga: Riwayat Penggabungan Desa di Masa Kolonial, Ratusan Desa Dilebur untuk Terapkan Tanam Paksa
Fenomena ini menunjukkan bahwa persaingan antara drakor dan sinetron lokal justru dapat menjadi pemicu peningkatan kualitas industri hiburan, sekaligus memberikan lebih banyak pilihan tontonan bagi masyarakat.
CINDY
Editor : Imron Arlado