JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Perubahan besar tengah terjadi di dunia kerja seiring masuknya generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), ke dalam angkatan kerja.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z kini menjadikan fleksibilitas sebagai prioritas utama dalam memilih pekerjaan.
Bagi mereka, bekerja bukan sekadar soal penghasilan, tetapi juga tentang keseimbangan hidup, kebebasan waktu, dan kesehatan mental.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap sistem kerja fleksibel, seperti work from home (WFH), hybrid working, hingga freelance.
Banyak perusahaan pun mulai beradaptasi dengan memberikan opsi jam kerja yang lebih luwes serta kebijakan kerja jarak jauh untuk menarik dan mempertahankan talenta muda.
Menurut sejumlah survei ketenagakerjaan terbaru, mayoritas Gen Z lebih memilih pekerjaan yang memungkinkan mereka mengatur waktu sendiri dibandingkan pekerjaan dengan jam kerja konvensional.
Fleksibilitas ini dinilai memberi ruang bagi mereka untuk mengembangkan diri, menjalani hobi, hingga menjaga kesehatan mental di tengah tekanan pekerjaan.
“Bekerja tidak harus selalu di kantor dari pukul 9 pagi sampai 5 sore. Yang penting adalah hasil kerja, bukan sekadar kehadiran,” ujar seorang pekerja muda di bidang kreatif.Baca Juga: Pasca Lebaran, Produksi Sampah di TPA Karangdiyeng Mojokerto Capai 100 Ton Per Hari
Selain itu, perkembangan teknologi digital juga menjadi faktor pendorong utama tren ini. Dengan adanya berbagai platform komunikasi dan kolaborasi daring, pekerjaan kini dapat dilakukan dari mana saja.
Hal ini membuka peluang bagi Gen Z untuk bekerja lintas kota bahkan lintas negara tanpa harus berpindah tempat tinggal.
Namun, tren kerja fleksibel juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak sedikit perusahaan yang masih kesulitan dalam mengelola produktivitas karyawan secara jarak jauh.
Di sisi lain, pekerja juga dituntut memiliki disiplin tinggi agar tetap produktif meski tanpa pengawasan langsung.
Pengamat ketenagakerjaan menilai bahwa perubahan ini merupakan bagian dari transformasi besar dalam budaya kerja global. Perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan fleksibilitas berisiko kehilangan daya saing dalam menarik generasi muda.
Meski demikian, keseimbangan tetap menjadi kunci. Fleksibilitas yang tidak diatur dengan baik justru dapat menyebabkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.
Tren ini diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya peran Gen Z di dunia kerja.
Fleksibilitas bukan lagi sekadar pilihan tambahan, melainkan telah menjadi standar baru yang mengubah cara pandang terhadap pekerjaan di era modern.
CINDY
Editor : Imron Arlado