Anyaman ketupat mencerminkan tradisi Lebaran Ketupat yang sarat makna maaf, kesucian, dan kebersamaan. (detik.com)JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Perayaan Lebaran tidak sepenuhnya berakhir setelah Hari Raya Idulfitri. Di sejumlah daerah, khususnya di Pulau Jawa, masyarakat masih melanjutkan tradisi yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat atau Hari Raya Ketupat yang diperingati pada hari kedelapan bulan Syawal.
Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Idulfitri setelah umat Muslim menjalankan puasa sunah selama enam hari di bulan Syawal. Lebaran Ketupat pun dimaknai sebagai momen penutup yang sarat akan nilai spiritual dan sosial.
Baca Juga: Usai Lebaran, Ini Jadwal dan Keutamaan Puasa Syawal 2026
Ketupat sebagai ikon utama dalam perayaan ini tidak hanya berfungsi sebagai hidangan khas, tetapi juga mengandung filosofi mendalam. Dalam budaya Jawa, “kupat” diartikan sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Makna ini mencerminkan pentingnya sikap saling memaafkan setelah menjalani bulan Ramadan.
Bentuk anyaman ketupat yang rumit melambangkan beragam kesalahan manusia, sementara isi ketupat yang berwarna putih bersih menggambarkan hati yang kembali suci. Janur atau daun kelapa muda yang digunakan sebagai pembungkus juga memiliki makna simbolis sebagai lambang kesucian dan harapan baru.
Baca Juga: Menciptakan Lingkungan Aman bagi Anak dengan Epilepsi di Rumah
Di beberapa daerah, perayaan ini juga disertai dengan kegiatan adat seperti kenduri atau selamatan desa. Tradisi tersebut menjadi wujud rasa syukur sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Hidangan yang disajikan ptidak lepas dari cita rasa khas Nusantara. Ketupat biasanya disandingkan dengan berbagai menu seperti opor ayam, sambal goreng ati, sayur labu siam, hingga rendang. Perpaduan rasa gurih dari santan dan bumbu rempah menjadikan hidangan ini identik dengan suasana hangat kebersamaan saat Lebaran Ketupat.
Baca Juga: Lima Jalan di Kota Mojokerto Rawan Pelanggaran
Proses pembuatan ketupat sendiri terbilang sederhana, namun membutuhkan ketelatenan. Beras yang telah dicuci bersih dimasukkan ke dalam anyaman janur hingga setengah bagian, kemudian direbus dalam air mendidih selama kurang lebih 2 hingga 4 jam hingga matang sempurna. Setelah itu, ketupat diangkat dan digantung agar airnya tiris, sehingga menghasilkan tekstur yang padat dan tidak mudah basi.
Dengan demikian, Lebaran Ketupat tidak hanya menjadi penutup rangkaian perayaan Idulfitri, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan antarsesama melalui sikap saling memaafkan dan mempererat silaturahmi. RIRA
Editor : Imron Arlado