Pemerintah melakukan kebijakan dalam menghemat bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini ternyata tidak hanya berdampak pada sektor transportasi dan ekonomi saja, melainkan juga mempengaruhi kebijakan di dunia pendidikan, termasuk dalam sistem pembelajaran di sekolah.
Salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah adalah menata ulang aktivitas yang berkaitan dengan mobilitas dan penggunaan energi. Dalam konteks ini, pembelajaran daring dianggap dapat mengurangi mobilitas.
Namun, dibalik anggapan tersebut pembelajaran daring tidak sepenuhnya bebas dari penggunaan BBM. Aktivitas belajar dari rumah tetap bergantung pada BBM, contohnya seperti orang tua yang harus keluar rumah untuk mencari akses internet, sehingga penggunaan BBM tetap terjadi. Dan jika dilakukan secara jangka panjang, hal ini justru dinilai kurang efisien dalam mendukung upaya penghematan BBM secara menyeluruh.
Selain itu, efektivitas pembelajaran daring juga dipertanyakan. Banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi karena terbatasnya interaksi langsung dengan guru. Proses tanya jawab juga tidak berjalan maksimal serta kurangnya pendampingan membuat kualitas pembelajaran menjadi menurun. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengawasan, sehingga tidak semua siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan disiplin.
Di sisi lain, para guru juga menghadapi tantangan tersendiri, tidak semua tenaga pendidikan terbiasa menggunakan teknologi dalam proses mengajar. Hal ini turut mempengaruhi kualitas pembelajaran yang diterima siswa.
Dengan berbagai kendala tersebut, pembelajaran daring akhirnya dianggap tidak lagi menjadi solusi yang efektif dalam jangka panjang. Banyak pihak mulai beralih ke sistem tatap muka yang dinilai lebih mampu mendukung interaksi, pemahaman materi, serta pengawasan secara langsung.
TISA
Editor : Imron Arlado