JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Jelang Lebaran, sejumlah penjahit di Mojokerto kebanjiran order. Kini, mereka pun mulai menutup order untuk merampungkan pesanan yang sudah menumpuk.
Seperti yang dilakukan Suyatmiyati, penjahit di Dusun/Desa Bangeran, Kecamatan Dawarblandong. Ia mengaku sudah menutup pesanan menjahit pakaian sejak sebelum Ramadan.
Perempuan berusia 60 tahun itu memilih menutup pesanan jahitan kain sejak sebelum Ramadan. Saat ini, ia hanya menerima permak pakaian dalam jumlah terbatas.
“Untuk jahit kain sudah saya tutup sebelum puasa. Sekarang paling hanya permak saja, itu pun kalau masih sanggup,” ujar Yati saat ditemui di rumahnya, Kamis (12/3/2026).
Yati sudah menekuni pekerjaan ini sejak 1990. Selama puluhan tahun, ia melayani berbagai kebutuhan jahitan warga. Mulai dari seragam sekolah, pakaian mengaji hingga baju Lebaran.
Namun kini, faktor usia membuatnya tak lagi sanggup menerima banyak pesanan.
“Sudah tua, jadi cepat capek. Anak-anak juga tidak membolehkan terlalu banyak jahit,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku pesanan jahitan menjelang Lebaran biasanya selalu membludak. Bahkan, tidak jarang ia harus menolak pesanan karena tidak sanggup menyelesaikan semuanya.
“Biasanya sebelum puasa sudah banyak pesanan sampai harus menolak. Tidak sanggup kalau semuanya diterima,” ungkapnya.
Dalam mengerjakan jahitan, Yati masih menggunakan mesin jahit yang masih manual. Cara tersebut sengaja dipilih karena lebih nyaman sekaligus menjadi aktivitas fisik baginya.
Sebagai penjahit lama di kampung tersebut, Yati juga terkadang dibantu oleh seorang rekan untuk menyelesaikan jahitan yang menumpuk.
Keputusannya membatasi pesanan jahitan membuat sebagian warga harus mencari alternatif lain menjelang Lebaran.
Salah satu pelanggan setianya, Indah Wati, mengaku sudah menjadi langganan Yati sejak kecil.
“Dari kecil kalau mau jahit baju selalu ke Bu Yati. Jahitannya rapi dan berbeda dari yang lain,” katanya.
Menurut perempuan 38 tahun itu, tutupnya pesanan jahitan Yati membuat warga cukup kerepotan.
“Di dusun sini yang terkenal jahitannya ya Bu Yati. Jadi kalau ia sudah tutup, kadang bingung mau jahit ke mana,” ujarnya.
Meski begitu, Yati menegaskan dirinya tidak sepenuhnya berhenti menjahit. Setelah Lebaran nanti, ia tetap akan membuka jasa jahit, namun dalam jumlah terbatas.
“Tidak ditutup total. Kalau masih sehat ya tetap jahit, tapi sedikit-sedikit saja sesuai kemampuan,” pungkasnya. NESTI
Editor : Imron Arlado