JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Aksi unjuk rasa yang digelar oleh berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa di depan Kantor Pemerintah Kota Mojokerto berakhir ricuh, Rabu (11/3/2026).
Massa yang menuntut evaluasi satu tahun kepemimpinan Wali Kota Ika Puspitasari atau Ning Ita, kecewa karena tidak ditemui langsung oleh sang Wali Kota. Ketegangan memuncak saat petugas kepolisian mencoba memadamkan ban yang dibakar massa dengan cara menendangnya ke arah kerumunan massa.
Ratusan mahasiswa bersama elemen masyarakat sejak pagi mulai memadati depan Kantor Pemkot Mojokerto. Sambil membentangkan spanduk bernada kritik, mereka menyuarakan rapor merah atas satu tahun kepemimpinan Wali Kota Ika Puspitasari.
Massa menilai, banyak janji kampanye Ning Ita yang belum terealisasi secara maksimal, terutama terkait sektor kesejahteraan dan transparansi kebijakan daerah.
Ketua DPC GMNI Mojokerto Raya, Mohammad Thohir mengatakan, "Kami ke sini membawa aspirasi rakyat! Satu tahun berjalan, tapi perubahan yang dijanjikan Ning Ita belum menyentuh akar rumput. Kami butuh bukti, bukan sekadar seremonial!"
Senada dengan itu, Jose salah satu orator dalam aksi tersebut menyuarakan, peningkatan infrastruktur dianggap masih jauh dari visi dan misi yang diusung. Sebab masih tersisa proyek fisik yang menodai kepercayaan publik, termasuk keuangan negara. Yaitu proyek wisata di TBM.
Itu sebuah artefak nyata peninggalan masa lalu yang kini dilanjutkan oleh orang yang sama. Itu nyata dan di depan mata kita. Proyek TBM hanya akal-akalan saja, serunya.
Situasi mulai memanas saat perwakilan massa meminta Ning Ita keluar untuk menemui mereka secara langsung. Namun, petugas Satpol PP dan kepolisian yang berjaga menginformasikan bahwa Wali Kota sedang tidak berada di tempat atau memiliki agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan.
Kecewa karena tidak ditemui, massa kemudian membakar ban bekas tepat di depan gerbang utama sebagai simbol kemarahan.
Kericuhan pecah seketika saat seorang petugas kepolisian terlihat menendang ban yang tengah berkobar ke arah halaman Pemkot untuk menjauhkannya dari pintu gerbang. Aksi ini memicu amarah demonstran yang merasa tindakan tersebut membahayakan keselamatan massa aksi.
Aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat kepolisian tidak terhindarkan.
Tak puas karena tidak ditemui walikota massa akhirnya bergeser ke rumah dinas walikota jalan hayam wuruk, di rumah dinas tersebut massa di temui oleh asisten pemerintahan dan kesra Heryana Dodik Murtono.
Dodik mengajak mahasiswa duduk bersama dipinggir jalan didepan rumah dinas ditengah terik matahari untuk berdialog bersama.
Editor : Imron Arlado