JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Seluruh orang di dunia memperingati International Women’s Day atau Hari Perempuan Sedunia setiap tanggal 8 Maret. Peringatan ini sebagai pengingat atas perjalanan panjang perempuan dalam memperjuangkan hak dan kesetaraan di berbagai bidang kehidupan. Mulai dari akses pendidikan, kesempatan kerja, hingga peran dalam politik dan sosial, perjuangan perempuan masih berlanjut hingga kini.
Pada tahun 2026 UN WOMEN mengangkat tema “Rights.Justice.Action. For All Women And Girls”. Tema tersebut menekankan pentingnya memastikan seluruh perempuan dan anak perempuan mendapatkan hal yang adil serta perlindungan nyata.
Di Indonesia sendiri, sejarah mencatat banyak perempuan yang telah berkontribusi besar bagi bangsa. Salah satu tokoh perempuan hebat adalah Laksamana Malahayati, seorang pahlawan perempuan dari Aceh yang dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia. Keberanian dan kepemimpinannya menjadikannya simbol bahwa perempuan juga mampu berperan penting dalam bidang militer dan kepemimpinan.
Baca Juga: Rencana Pembatasan Media Sosial bagi Remaja di Bawah 16 Tahun Tuai Pro dan Kontra!
Malahayati lahir dari keluarga bangsawan di Kesultanan Aceh yang memiliki latar belakang kuat dalam dunia kemaritiman. Sejak muda, ia telah mendapatkan pendidikan militer di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis. Lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia pelayaran turut membentuk kemampuan strategi dan kepemimpinannya.
Perjalanan hidup Malahayati berubah ketika suaminya gugur dalam pertempuran melawan penjajah. Peristiwa tersebut justru mendorongnya untuk terus melanjutkan perjuangan. Ia kemudian membentuk pasukan yang beranggotakan para janda pejuang yang ditinggal gugur oleh suami mereka. Pasukan tersebut diberi nama Inong Balee yang menjadi kekuatan penting dalam pertahanan Aceh.
Di bawah komandonya, pasukan Inong Balee beberapa kali terlibat dalam pertempuran melawan armada Belanda dan Portugis. Salah satu peristiwa yang paling dikenal adalah ketika Malahayati berhasil mengalahkan Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu pada tahun 1559.
Baca Juga: Masuk Top 10 Besar Indonesian Idol 2026, Rio Lahskart Dibanjiri Dukungan dari Penggemar
Kemenangan tersebut membuat nama Malahayati semakin dikenal sebagai pemimpin perang yang tangguh. Selain terkenal sebagai panglima perang, Malahayati juga memiliki kemampuan diplomasi. Ia pernah dipercaya untuk menjalankan perundingan dengan pihak Belanda atas perintah Sultan Aceh.
Perjuangan Malahayati berakhir saat ia gugur dalam pertempuran laut melawan Portugis pada tahun 1606. Meski demikian, jasanya tetap dikenang hingga saat ini. Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Malahayati pada tahun 2017 sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya bagi bangsa.
Kisah Malahayati sebagai bukti bahwa perempuan telah memainkan peran penting dalam sejarah. Semangat keberanian dan kepemimpinannya sejalan dengan pesan Hari Perempuan Sedunia untuk terus berkontribusi dan memperjuangkan kesetaraan di berbagai bidang kehidupan. ASIKHA
Editor : Imron Arlado