JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Musim kemarau merupakan periode yang ditunggu-tunggu oleh sebagian orang karena cuaca yang cerah dan aktivitas luar ruangan yang lebih nyaman. Namun, dibalik langit yang cerah, musim kemarau menyimpan ancaman yang serius yang perlu diwaspadai terutama krisis air bersih dan kebakaran lahan.
Selama musim kemarau, curah hujan menurun drastis sehingga pasokan air bersih dari sungai maupun sumur berkurang. Banyak wilayah terutama di daerah pedesaan dan perbatasan kota mengalami kekurangan air bersih. Kementerian lingkungan hidup mencatat bahwa permintaan air meningkat hingga 30% selama musim kemarau.
Krisis ini bukan hanya soal kekurangan air bersih tetapi juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari dehidrasi hingga meningkatnya risiko penyakit kulit dan diare. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan untuk menyimpan air secara bijak dan mengurangi penggunaan air untuk hal-hal yang tidak penting.
Selain krisis air, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran lahan dan hutan. Rumput kering, sampah organik bisa memicu kebakaran. Tahun-tahun sebelumnya, kebakaran hutan terjadi di beberapa wilayah dan penyebab polusi udara hingga kerugian ekonomi yang signifikan.
Pihak berwenang terus menghimbau masyarakat untuk lebih waspada serta aktivitas membakar sampah atau membuka lahan dengan api harus dihindari. Pemerintah juga meningkatkan patroli di daerah yang rawan kebakaran.
Langkah Pencegahan:
- gunakan air secukupnya dan hindari penggunaan air yang tidak penting.
- Hindari membuang rokok sembarangan
- Pantau cuaca secara teratur
- Simpan air secukupnya untuk darurat
Dengan kesadaran, persiapan, dan tindakan pencegahan yang tepat, risiko-risiko ini dapat diminimalkan. Musim kemarau memang panas, tapi kewaspadaan kita harus lebih panas lagi.
TISA
Editor : Imron Arlado