JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Perayaan Idul Fitri dengan hidangan lezat yang menggugah selera. Setelah sebulan berpuasa, meja makan biasanya dipenuhi opor ayam bersantan, rendang yang kaya lemak, sambal goreng ati, hingga kue kering yang manis dan berlemak.
Tidak sedikit orang yang akhirnya “balas dendam” makan di hari kemenangan. Sayangnya, pola makan yang mendadak berubah drastis justru bisa memicu gangguan lambung seperti perut kembung, nyeri ulu hati, hingga kambuhnya asam lambung.
Perubahan pola makan dari yang sebelumnya teratur saat puasa menjadi lebih bebas saat Lebaran membuat sistem pencernaan perlu beradaptasi kembali. Lambung yang selama Ramadan terbiasa menerima asupan dalam posisi tertentu pada waktu yang relatif konsisten bisa “kaget” Ketika tiba-tiba menerima makanan dalam jumlah besar, tinggi lemak, dan tinggi gula sekaligus.
Salah satu pemicu utama gangguan lambung sata kebakaran adalah makanan bersantan dan berlemak tinggi seperti opor dan rendang. Santan dan lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna sehingga lambung bekerja lebih keras.
Baca Juga: Antre Dua Jam demi Uang Baru, Warga Kota Mojokerto Keluhkan Laman BI Rawan Error
Jika dikonsumsi berlebihan, kondisi ini dapat memperlambat pengosongan lambung dan memicu rasa penuh, mual, atau sensasi terbakar di dada pada penderita gastroesophageal reflux (GERD). Selain itu, kue kering yang tinggi gula juga dapat meningkatkan produksi asam lambung bila dikonsumsi tanpa kontrol.
Agar tetap bisa menikmati hidangan khas Idul Fitri tanpa khawatir gangguan pencernaan, kuncinya ada pada pengaturan porsi dan cara makan. Ambillah makanan dalam porsi kecil terlebih dahulu, lalu beri jeda sebelum menambah.
Cara itulah yang membantu tubuh memberi sinyal kenyang secara alami dan mencegah makan berlebihan. Mengunyah makanan secara perlahan juga penting karena proses pencernaan dimulai dari mulut. Semakin halus makanan dikunyah, semakin ringan kerja lambung.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Hiasi Awal Ramadan dengan Keindahan Langit Malam
Mengimbangi makanan berat dengan sayur dan buah juga sangat dianjurkan. Serat membantu melancarkan pencernaan dan mengurangi risiko sembelit yang kerap terjadi setelah konsumsi makanan tinggi lemak.
Air putih pun tidak boleh terlupakan. Minum cukup air membantu proses metabolisme dan mencegah dehidrasi, terutama Ketika banyak mengonsumsi makanan manis.
Bagi yang memiliki Riwayat maag atau asam lambung, sebaiknya tidak langsung mengkonsumsi makanan pedas, asam, atau berlemak dalam kondisi perut kosong. Mengisi perut terlebih dahulu dengan makanan ringan yang lebih ramah lambung dapat membantu mengurangi risiko iritasi.
Selain itu, hindari langsung berbaring setelah makan besar karena posisi tersebut memudahkan asam lambung naik ke kerongkongan.
Aktivitas fisik ringan seperti berjalan santai setelah makan juga bisa membantu memperlancar pencernaan. Tidak perlu olahraga berat, cukup bergerak agar tubuh tidak terus menerus dalam posisi duduk saat bersilaturahmi dari satu rumah ke rumah lainnya.
Baca Juga: Pakai Anggaran Pemerintah untuk Bukber ASN, Ini Ancaman Sanksi yang Perlu Kamu Tahu
Idul Fitri adalah momen kebahagiaan dan kebersamaan. Menikmati sajian khas Lebaran tentu boleh, tetapi tetap perlu bijak dalam mengatur pola makan. Dengan mengontrol porsi, memilih makanan secara seimbang, serta menjaga pola hidup sehat, tentu bisa merayakan hari kemenangan tanpa harus terganggu asam lambung.
NENSI
Editor : Imron Arlado