JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Konflik militer terbesar di Asia Barat sepanjang dekade ini memasuki fase baru setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Memicu serangan balasan rudal dan drone dari Teheran yang meluas ke seluruh wilayah Timur Tengah. Konflik ini kini mengancam keselamatan sipil, stabilitas regional, bahkan ekonomi global.
Pada Sabtu pagi pekan lalu, pasukan militer Amerika Serikat bersama Angkatan Pertahanan Israel meluncurkan operasi militer gabungan berskala besar ke wilayah Iran yang dikenal sebagai Operation Epic Fury.
Target serangan mencakup fasilitas militer, instalasi pertahanan udara, kompleks infrastruktur strategis, hingga kediaman pejabat tinggi Iran di Teheran. Ledakan keras mengguncang ibu kota dan kota-kota besar Iran lainnya.
Operasi ini disebut menghancurkan sejumlah lokasi penting, termasuk pusat komando dan kontrol, serta menimbulkan ratusan korban tewas dan luka-luka, termasuk warga sipil, menurut laporan Palang Merah Iran.
Tak berselang lama, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran, menargetkan bukan hanya Israel tetapi juga pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk seperti Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan negara lain yang menjadi tuan rumah fasilitas AS.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan peluncuran gelombang serangan rudal dan drone ke 27 titik strategis, termasuk pangkalan udara Tel Nof di Israel serta fasilitas militer di negara-negara tetangga.
Akibat eskalasi ini, delapan negara di kawasan menutup wilayah udara mereka demi keselamatan penerbangan sipil dan militer termasuk Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Langkah ini mencerminkan kekhawatiran luas akan perluasan konflik yang tak terkendali.
Beberapa rudal Iran juga ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara di negara-negara Teluk, namun insiden sirine darurat dan ledakan yang terdengar di kota-kota besar mencerminkan tingginya ketegangan di kawasan.
Selain sasaran militer, laporan awal menyebutkan bahwa serangan awal terhadap Iran juga menimpa target sipil, termasuk sebuah sekolah di provinsi Hormozgan yang runtuh akibat serangan rudal di hari pertama konflik, menimbulkan korban jiwa di kalangan pelajar perempuan.
Baca Juga: Truk Tangki Muatan Solar Terjun dari Tol Jombang–Mojokerto, Sopir Patah Kaki
Pengamat hubungan internasional memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi melebar menjadi perang regional.
Serangan balasan Iran yang menargetkan negara-negara tetangga dan pangkalan AS membuat sejumlah negara Arab berada di posisi sulit, antara dukungan terhadap sekutu strategisnya dan kekhawatiran atas agresi militer yang melintas batas kedaulatan.
Lembaga internasional dan pejabat PBB menyerukan penurunan ketegangan serta upaya diplomatik segera untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
Konflik yang semakin intens ini tak hanya mempengaruhi keamanan regional, tetapi juga berdampak pada keterlambatan dan pembatalan penerbangan internasional, perdagangan energi, serta ketidakpastian pasar global akibat gangguan di jalur energi strategis seperti Selat Hormuz rute vital ekspor minyak dunia.
Baca Juga: Serangan Udara AS-Israel ke Iran Menuai Kecaman Internasional, Berikut Negara yang Ikut Mengecam
Eskalasi konflik yang dimulai dari serangan gabungan Amerika Serikat, Israel ke Iran telah memicu balasan besar-besaran oleh Iran, dengan rudal dan drone yang meluas ke seluruh wilayah Timur Tengah.
Menyeret banyak negara di kawasan ke dalam ketegangan militer yang belum menunjukkan tanda mereda.
CINDY
Editor : Imron Arlado