JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memuncak setelah militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran pada akhir pekan lalu. Aksi militer ini yang disebut sebagai salah satu ofensif terbesar dalam dekade terakhir.
Operasi militer yang dimulai pada 28 Februari 2026 ini melibatkan serangan udara dan rudal ke berbagai target di seluruh Iran, termasuk infrastruktur militer, sistem pertahanan udara, serta lokasi yang dekat dengan kantor pemimpin tertinggi Iran. Ledakan terdengar hingga di ibu kota Teheran dan beberapa kota besar lainnya.
Pemerintah Israel menyatakan serangan ini merupakan tindakan pre-emptive untuk menanggapi ancaman yang mereka klaim berasal dari program nuklir dan kemampuan militer Iran. Menurut pernyataan militer Israel, berbagai sistem rudal balistik dan pertahanan Iran menjadi sasaran utama.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyebut operasi ini menjadi salah satu langkah untuk melemahkan rezim yang dianggap berbahaya dan menghancurkan kemampuan militer Iran yang berpotensi mengancam stabilitas regional.
Akibat serangan ini, Iran merespons dengan meluncurkan gelombang baru ke target-target di Israel serta pangkalan militer AS di berbagai negara di Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam juga mengumumkan bahwa puluhan lokasi militer dan fasilitas strategis menjadi target balasan mereka.
Komunitas internasional pun ikut bereaksi, beberapa negara mengancam akan tindakan militer tersebut. Sementara pemimpin dunia menyerukan penghentian eskalasi dan dialog diplomatik, mengingat risiko konflik yang lebih luas serta dampak kemanusiaan yang semakin serius.
Di tengah ancaman eskalasi lebih lanjut, para warga di berbagai kota Iran dilaporkan panik dan beberapa keluarga mencari perlindungan. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas situasi yang semakin tidak stabil ini.
TISA
Editor : Imron Arlado