JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Menjelang hari raya Idul Fitri, umat Islam dari seluruh dunia bersiap menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Selain berpuasa ada satu ibadah yang tidak boleh dilewatkan, yakni zakat fitrah.
Namun, zakat fitrah bukan hanya sekedar kewajiban yang harus ditunaikan sebelum lebaran. Di balik itu semua terdapat makna mendalam tentang penyucian diri dan menumbuhkan rasa empati antar sesama makhluk hidup.
Secara syariat, zakat fitrah diwajibkan bagi setiap umat Muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Besarnya setara dengan kebutuhan pokok yang biasanya dikonsumsi seperti beras. Kewajiban ini menjadi penyempurna ibadah di bulan Ramadhan.
Secara bahasa, kata zakat berasal dari bahasa Arab yang berarti suci, tumbuh, berkembang dan berkah. Makna ini menunjukkan bahwa zakat bukan hanya sekedar mengurangi harta, tetapi justru menjadi sarana untuk membersihkan dan memberkahkan harta tersebut.
Baca Juga: Wajah Kota Mojokerto Tercoreng, Persoalan Sampah Tak Kunjung Tuntas
Salah satu tujuan utama zakat fitrah adalah menyempurnakan ibadah selama puasa Ramadhan. Selama menjalankan puasa, manusia tidak luput dari kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Kesalahan tersebut bisa berupa perkataan yang tidak baik, pikiran negatif, atau sikap yang kurang terjaga sehingga zakat fitrah menjadi sarana untuk membersihkan kekurangan tersebut dan menjadikan ibadah puasa lebih sempurna di sisi Allah SWT.
Di era modern seperti ini, penyaluran zakat menjadi lebih mudah. Banyak lembaga amil zakat masjid, sehingga platform digital yang memfasilitasi pembayaran dengan praktis dan transparan.
Kemudahan ini semestinya tidak mengurangi esensi ibadah, justru menjadi peluang untuk memperluas dampak kebaikan. Zakat yang terkelola dengan baik mampu membantu kebutuhan pangan, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat yang kurang mampu.
Ketika zakat fitrah ditunaikan dengan kesadaran dan keikhlasan maka bukan hanya menggugurkan kewajiban tetapi juga membentuk karakter. Empati tumbuh, rasa syukur menguat dan solidaritas semakin kokoh. Dari sinilah lahir masyarakat yang tidak hanya taat secara ritual tetapi juga peduli secara sosial.
TISA
Editor : Imron Arlado