JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Setiap memasuki pengujung bulan Ramadan, umat Islam di seluruh dunia bersiap menunaikan zakat fitrah.
Kewajiban yang ditunaikan sebelum Hari Raya Idul Fitri ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan simbol kepedulian sosial yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Zakat fitrah merupakan zakat yang diwajibkan bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak.
Kewajiban ini ditegaskan dalam ajaran Islam sebagai bentuk penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa Ramadan, sekaligus sarana berbagi kebahagiaan menjelang hari kemenangan.
Secara historis, zakat fitrah telah diperintahkan sejak masa Nabi Muhammad SAW. Dalam praktiknya, zakat ini umumnya dibayarkan dalam bentuk bahan makanan pokok, seperti beras di Indonesia, atau dalam bentuk uang yang setara dengan nilai bahan pokok tersebut.
Besarannya biasanya setara dengan 2,5 hingga 3 kilogram beras per jiwa, sesuai ketentuan yang ditetapkan lembaga keagamaan setempat.
Di Indonesia, pengelolaan zakat, termasuk zakat fitrah, diatur dan difasilitasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Lembaga ini berperan menghimpun dan mendistribusikan zakat kepada delapan golongan penerima (asnaf), di antaranya fakir, miskin, dan mereka yang membutuhkan.
Ketua Baznas dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa zakat bukan sekadar ibadah individual, tetapi juga instrumen pemerataan ekonomi.
Dana zakat yang terkumpul menjelang Idul Fitri kerap disalurkan dalam bentuk paket sembako, bantuan tunai, hingga program pemberdayaan ekonomi bagi keluarga prasejahtera.
“Zakat fitrah memastikan tidak ada umat Muslim yang merayakan Idul Fitri dalam kondisi kekurangan,” demikian pesan yang kerap disampaikan dalam kampanye zakat nasional.
Dari sisi sosial, zakat fitrah memiliki dimensi yang lebih luas. Tradisi membayar zakat sebelum shalat Idul Fitri menciptakan momen kolektif berbagi.
Baca Juga: Wajah Kota Mojokerto Tercoreng, Persoalan Sampah Tak Kunjung Tuntas
Di berbagai daerah, warga berbondong-bondong menyerahkan zakat ke masjid atau panitia amil setempat.
Proses distribusinya pun kerap melibatkan relawan dan tokoh masyarakat, memperkuat rasa kebersamaan.
Pengamat sosial menilai, praktik zakat fitrah mampu mengurangi kesenjangan sosial, setidaknya dalam momentum hari raya.
Bagi penerima, bantuan tersebut bukan hanya soal materi, tetapi juga pengakuan bahwa mereka tidak dilupakan oleh lingkungan sekitarnya.
Di tengah tantangan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan hidup, zakat fitrah menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial adalah fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai gotong royong yang mengakar dalam budaya Indonesia menemukan relevansinya melalui praktik zakat ini.
Seiring perkembangan teknologi, pembayaran zakat kini semakin mudah melalui platform digital.
Sejumlah lembaga zakat resmi membuka layanan daring untuk memudahkan masyarakat menunaikan kewajiban tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Namun demikian, para ahli mengingatkan pentingnya memastikan penyaluran zakat dilakukan melalui lembaga terpercaya agar distribusi tepat sasaran.
Transparansi laporan keuangan dan pelaporan publik menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Baca Juga: Sahur Lintas Iman di GKJW Dawarblandong, Nyai Shinta Ajak Jaga Persatuan
Pada akhirnya, zakat fitrah bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan karena tuntutan agama.
Ia adalah cerminan kepedulian sosial, wujud empati, dan sarana memperkuat ikatan antar umat.
Di balik butiran beras yang dibagikan, tersimpan harapan agar kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan bersama, tanpa terkecuali.
CINDY
Editor : Imron Arlado