Warga Kelurahan Sidomulyo yang bermukim di sekitar kawasan tersebut mengeluhkan kondisi yang dinilai berulang. Menurut mereka, persoalan sampah di jalur utama kota bukan sekali dua kali terjadi. Setiap kali dibersihkan, tak berselang lama tumpukan kembali muncul.
"Sudah sering seperti ini. Kadang sampai mengganggu pengguna jalan dan pejalan kaki. Baunya juga menyengat, apalagi kalau siang hari," ujar salah satu warga.
Selain merusak estetika kota, kondisi ini juga memicu kekhawatiran soal kesehatan lingkungan. Sampah yang dibiarkan menumpuk berpotensi mengundang lalat, tikus, hingga mencemari saluran air saat hujan turun. Ironisnya, persoalan tersebut terjadi di kawasan yang setiap hari dilalui masyarakat luas, termasuk tamu dari luar daerah.
Warga menduga keterlambatan pengangkutan sampah oleh petugas menjadi salah satu penyebab utama. Ritme pengambilan yang tidak konsisten membuat sampah cepat menumpuk, terlebih jika volume buangan rumah tangga dan pedagang meningkat.
Jika kondisi ini terus berulang, publik tentu berhak mempertanyakan efektivitas pengelolaan sampah di Kota Mojokerto. Apakah persoalan ini semata soal teknis di lapangan, atau ada problem manajemen dan pengawasan yang belum tertangani secara sistematis?
Sebagai jalan utama, Jalan Mojopahit semestinya menjadi wajah yang mencerminkan tata kelola kota yang bersih dan tertib. Tanpa penanganan yang konsisten dan evaluasi menyeluruh, persoalan sampah dikhawatirkan hanya akan menjadi rutinitas musiman—dibersihkan, lalu kembali menumpuk.
Warga berharap pemerintah kota tidak hanya bergerak saat keluhan mencuat, tetapi menghadirkan sistem yang lebih disiplin dan terjadwal agar kawasan protokol benar-benar terbebas dari persoalan klasik tersebut.
Editor : Fendy Hermansyah