JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Belakangan ini, media sosial ramai dengan pernyataan bahwa tahun ini terasa seperti tahun 2016. Banyak warganet membandingkan, mulai dari tren hiburan, hingga suasana media sosial yang dinilai memiliki pola pikir yang serupa. Lalu, benarkah kita mengulang tahun 2016 atau hanya sekedar nostalgia?
Salah satu alasan yang paling terlihat adalah kembalinya tren yang sempat populer satu dekade lalu. Di media sosial, gaya busana dan tren makeup natural 2016 kembali digemari oleh anak muda. Selain itu, lagu-lagu lama juga kembali viral di Tiktok.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren memang bersifat siklus. Apa yang dulu dianggap biasa, kini terasa unik bagi generasi baru. Bagi mereka yang pernah mengalami era tersebut dengan kembalinya era 2016 menghadirkan rasa hangat dan akrab seperti membuka kembali album kenangan yang sempat tersimpan lama.
Tak hanya di dunia fashion dan musik, suasana media sosial pun dinilai memiliki kemiripan. Opini ini mudah memancing respons berantai dan bisa viral dalam hitungan jam.
Sebagian warganet juga menilai bahwa atmosfer global saat ini menghadirkan sensasi “deja vu”. Ketidakpastian ekonomi, isu politik, hingga perubahan cepat terhadap teknologi membuat banyak orang merasa seperti kembali ke masa ketika dunia sedang bergerak dalam arah yang sulit ditebak.
Lalu, apakah benar 2026 adalah 2016? Rasanya tidak sesederhana itu. Yang terjadi mungkin bukanlah sejarah yang berulang melainkan pola yang kembali muncul dalam bentuk yang berbeda.
Pada akhirnya, menyebut tahun ini mirip 2016 mungkin lebih merupakan refleksi perasaan kolektif daripada fakta yang identik. Tren boleh berulang, suasana bisa terasa sama, tetapi konteks dan tantangannya tetap terasa berbeda.
TISA
Editor : Imron Arlado